Pendekatan Saintifik dan Perbedaan Belajar Individu

ARTIKEL Perenungan Pak Tamba (Harian Analisa, 23/9/2014) yang ditulis Rinto Tampubolon menarik perhatian saya. Ada dua hal yang membuat saya membaca artikel ini: (1) saya kenal dengan si penulis, dan (2) tema yang diangkat menarik.

Saya menikmati membaca artikel ini. Tapi saya sempat berhenti membaca sebentar ketika sampai pada pendekatan saintifik. Rinto bilang Pak Tamba tidak percaya bahwa cara belajar peserta didik hanya akan bisa berkembang dengan satu pendekatan yang digariskan; pendekatan saintifik.” Setiap siswa punya lintasan dan gaya belajar masing-masing, ada yang harus dibantu secara langsung dan ada juga tidak langsung. Untuk itu, tidak ada pendekatan yang benar-benar tepat pada semua siswa. Setiap siswa memerlukan pendekatan yang unik,” kata Pak Tamba seperti yang disampaikan Rinto.

Sampai di titik ini, saya merasa pendapat Pak Tamba bermasalah, baik dari segi konsep maupun operasionalnya. Menurut saya Pak Tamba telah menyimpulkan bahwa pendekatan saintifik tidak mengakomodir keberagaman cara belajar siswa. Semua siswa akan dipaksa dengan cara belajar yang sama. Itu pendapat yang keliru.

Baca lebih lanjut

Keliru Prabowo Soal Penambahan Guru dan Tunjangan Profesi

TERKEJUT saya membaca visi-misi bakal calon Presiden RI PrabowoSubianto – HattaRajasa di laman www.kpu.go.id. Ada dua point kritikal. Pertama, penambahan 800 ribu guru baru dalam lima tahun ke depan. Kedua, menaikkan tunjangan profesi guru menjadi rata-rata empat juta rupiah per bulan. Kedua rencana itu bagian dari janji untuk meningkatkan kualitas sumber daya manusia dalam balutan program reformasi pendidikan.

Saya sugguh paham niat Prabowo-Hatta berusaha memastikan setiap sekolah punya guru. Dengan tambahan 800 ribu guru, maka di tahun 2019 tidak ada lagi siswa yang terlantar.Tentu saja dengan jumlah guru yang demikian maka layanan pendidikan yang bermutu bisa tersedia.

Begitu juga dengan niat menambah tunjangan profesi guru. Dengan memperoleh tambahan rata-rata empat juta rupiah per bulan, Prabowo-Hatta mungkin hakul yakin kinerja guru akan beranjak membaik. Logikanya: dengan kesejahteraan yang baik maka kinerja pun akan meningkat; jika kinerja guru bagus maka mutu pendidikan ikut terdongkrak.

Sayangnya, niat baik Prabowo-Hatta tidak segendang sepenarian dengan kebutuhan di lapangan. Menambah jumlah guru saat kekurangan memang tepat. Namun, menambah guru baru saat jumlahnya sudah berlebih, tentu saja itu sesat pikir.

Baca lebih lanjut

Tujuh Level Partisipasi Gereja Dalam Politik

Pemilihan kepala daerah (Pilkada) di Tapanuli Utara, membawa kita pada topik diskusi: apakah gereja bisa berpolitik?

Saya mulai dengan merujuk Dr. Jim Haris dalam artikel The Church’s Role in Politics (1999). Haris mengatakan gereja punya peran penting dalam politik. Ia mengajukan dua alasan. Saya ringkas sebagai berikut : Pertama, banyak warga gereja yang setiap hari harus menghadapi masalah sosial-politik-ekonomi. Kebijakan politik  yang dibuat pemerintah berhubungan langsung dengan kualitas kehidupan warga gereja. Gereja tidak bisa lepas dari realitas yang dihadapi jemaatnya.  Bahkan Alkitab telah menujukkan banyak tokoh yang aktif terlibat dalam politik seperti Amos dan Daniel. Johanes Pembabtis dan Yesus Kristus juga banyak berbicara tentang kondisi politik pada masa mereka. Keterlibatan gereja dalam politik merupakan bentuk reflektif iman terhadap lingkungan sekitarnya.

Kedua, gereja harus membawa suara kenabian. Kenabian yang dimaksud adalah membawa suara Allah kedalam proses pembuatan kebijakan, stuktur dan isu-isu yang mengarah pada kemanusian secara umum. Gereja harus berani mengatakan “iya” dan “tidak” terhadap kebijakan dan janji pemerintah. “Iya” yang  maksudnya adalah mendukung program pemerintah yang komit  kepada penyediaan pendidikan yang bermutu, memberikan akses kesehatan yang baik dan significant dan hal-hal lain yang membuat kehidupan warga menjadi lebih baik. “Tidak” ditujukan kepada tindakan penyelengara pemerintahan yang koruptif, manupulatif, sengaja melakukan kesalahan dan tidak memberikan keuntungan kepada masyarakat.

Kesimpulannya : gereja harus ada dalam proses perumusan kebijakan publik. Gereja harus aktif mempengaruhi  kebijakan negara melalui politik. Gereja tidak bisa menarik diri atau diam terhadap proses politik. “The church has to be prophetic, speaking for God. The church has to herald the ethical values that enrich a nation. The church has to be bold and forthright, constructive and innovative. The church has to be “salt and light” in what is so often a corrupt environment, to bring light and  health (Gereja harus seperti nabi, berbicara atas nama Allah. Gereja  harus memberitakan nilai-nilai etika yang memperkaya bangsa. Gereja harus berani dan tegas, konstruktif dan inovatif. Gereja harus menjadi “garam dan terang” dalam lingkungan yang dikenal korup, untuk membawa terang dan kebaikan),” tulis Jim Haris.

Baca lebih lanjut

Tantangan Alternatif Pembangunan

WARJIO punya gagasan bagus dalam artikel Mafia Berkeley vs Mafia Isdev (KORAN SINDO MEDAN, 22 April 2013).

Merujuk hasil International Conference Islamic Development (ICID) 2013 di Medan, Warjio menawarkan pembangunan berteraskan Islam (PBI) sebagai alternatif pembangunan melawan sistem ka pitalisme dan liberalisme. Prakarsa dari The Centre for Islamic Development Management Studies (ISDEV)di Universiti Sains Malaysia (USM) ini, tentu me narik didiskusikan lebih lanjut.

Saat ini, dunia memang sedang mencari model pem bangunan alternatif. Selain ISDEV dengan PBI, ada juga ekonom seperti Joseph E Stiglitz, Amartya Sen, dan Jean-Paul Fitoussi yang mengajukan Gross National Happiness (GNH). GNH ditujukan merevisi pa – tokan kinerja pembangunan yang selama ini cuma merujuk GNP (Gross National Product). Bagi Stiglitz, GNP bukanlah tolak ukur nyata kesejahteraan sebuah negara-bangsa (nation state).

Baca lebih lanjut

Masyarakat Nirbatas

BERSALAHKAH  komunitas Batak Mandailing di Malaysia meminta pengakuan atas gondang sembilan  dan tortor kepada penguasa negeri jiran itu? Tentu saja tidak!

Sebagai warga negara Malaysia, komunitas Batak Mandailing sudah tepat meminta perlindungan, pengakuan sekaligus pengembangan budaya dari negaranya. Malah akan keliru jika komunitas Batak Mandailing di Malaysia meminta pengakuan legal dari pemerintah Republik Indonesia. Selain hukum Indonesia pasti tidak berkutik di sana, Pemerintah RI juga terkenal sering abai mengurus kebudayaan. Jadi, meminta pengakuan Indonesia itu sama saja berniat menjaring angin.

Lantas kenapa orang Indonesia meradang? Menurut saya orang Indonesia tidak mau sedikit berlelah membaca sejarah. Peristiwa pengakuan atas gondang sembilan dan tortor  oleh Malaysia seperti mengulang kisah lama migrasi orang Batak Toba ke Medan pada awal abad 20, masa perjuangan menunjukkan diri sekaligus upaya mendapatkan pengakuan atas identitas sebagai Batak Toba di tanah Melayu.

Baca lebih lanjut

Demokrasi Tuan Zainuddin

DALAM wawancara di TVOne (Kamis, 20/12) Tun Sri Zainuddin Maidin bilang Malaysia lebih duluan mempraktikkan demokrasi ketimbang Indonesia. Demokrasi Malaysia diklaim lebih baik dari Indonesia.

Tuan Zainuddin berucap pemilu rutin, sistem hukum dan pengadilan bersih adalah bukti demokrasi Malaysia berjalan baik. Sambil meninggikan suara, eks chief of editor koran Utusan Malaysia itu, mengatakan tidak suka Gusdur dan Habibie mengajari Malaysia soal berdemokrasi. Bagi bekas Menteri Penerangan Malaysia itu, dukungan Gusdur dan Habibie kepada Anwar Ibrahim adalah ancaman. Baik bagi mantan Perdana Menteri (PM) Mahatir Muhammad dan juga bagi demokrasi Malaysia.

Laku Tuan Zainuddin mengingatkan saya pada hari-hari terakhir Soeharto berkuasa di Indonesia. Sekeras Tuan Zainuddin membela demokrasi Malaysia, sekeras itu pula pejabat Orde Baru (Orba) menyebut Soeharto sebagai manusia demokratis. Syarat demokrasi ala Tuan Zainuddin juga ada di zaman Soeharto. Pemilu rutin ada, sistem hukum ada, dan pengadilan yang “dianggap” bersihpun ada!

Tapi anak muda seperti saya harus bilang Soeharto tidak demokratis. Karena itulah faktanya. Pemilu regular yang dibikin Soeharto hanya memenangkan Golkar. Selama Soeharto berkuasa, tidak bisa partai lain menang pemilu. Samalah seperti di Malaysia, kalaupun pemilu datang teratur seperti musim hujan, pemenangnya sudah pasti UMNO (United Malays National Organization). Bukan begitu Tuan Zainuddin?

Baca lebih lanjut

Reburial: Dari Mitos Menuju Status Sosial *

DISKUSI Novel Sordam kita (Rabu,30/5), menyisakan pertanyaan: Mengapa orang Batak Toba melakukan penggalian tulang belulang (mangokkal holi-holi)?

Saya berusaha melacak jawaban praktis dari sumber-sumber yang bisa diakses. Mengingat sejarah penaklukan tanah Batak oleh Belanda tergolong belakangan (1820-1910), sehingga pengetahuan Barat tentang Batak masih tergolong minim. Belanda sendiri baru serius mendalami budaya Batak secara science sekitar 1908 lewat pendirian Bataksch Instituut di Lieden, Belanda. Saat itu Belanda tengah mempromosikan nasionalisme Batak sebagai lawan dari nasionalisme republik yang tengah tumbuh. Belanda mempromosikan berdirinya Batakstraad, sebagai perwakilan orang Batak di Volkstraad. Sekitar tahun 1940an, gelombang revolusi yang menyapu tanah Tapanuli, membuat study tentang Batak nyaris tidak berkembang. Tidak banyak literatur dalam bahasa asing yang bisa saya akses. Mengingat literatur  berbahasa asing itu, hanya tersedia di perpustakaan yang tersebar di Eropa.

Karena itu saya memilih pendekatan sejarah, untuk menyajikan pemahaman praktik reburial. Dari bahan-bahan yang saya baca, setidaknya ada empat tujuan, orang Batak Toba melakukal ritual mangokkal holi-holi. Pertama, menghormati orang tua (nenek moyang). Kedua, mengangkat derajat dan martabat marga (keluarga).  Ketiga, menyatukan marga (keluarga). Dan keempat, sebagai jalan untuk mendapatkan berkat kesejahteraan. Dalam pelacakan, keempat tujuan itu mengalami perubahan pemahaman spiritual pada setiap periode. Agar lebih mudah memahaminya, saya membagi periode itu menjadi tiga: Pra Kolonial (sebelum 1861), Kolonial (1861 -1940) dan Pasca Kolonial (1940-sekarang) 

Baca lebih lanjut

Diktator: Dari Nero sampai Khadafi!

Dari zaman baheula sampai era digital, tabiat para diktator tidak pernah bersulih. Bengis, angkuh dan nyentriknya tetap sama!

Lucius Annaeus Seneca Muda mati dalam penyesalan. Seneca tak habis pikir, kenapa sang murid tercinta bisa sakit jiwa. Filsuf legendaris Romawi itu dipaksa berkalang tanah atas perintah sang murid, Nero Claudius Caesar Agustus Germanicus. Seneca dieksekusi atas dalih pemberontakan.

Baca lebih lanjut

2010 in review

The stats helper monkeys at WordPress.com mulled over how this blog did in 2010, and here’s a high level summary of its overall blog health:

Healthy blog!

The Blog-Health-o-Meter™ reads This blog is doing awesome!.

Crunchy numbers

Featured image

A Boeing 747-400 passenger jet can hold 416 passengers. This blog was viewed about 1,400 times in 2010. That’s about 3 full 747s.

 

In 2010, there were 6 new posts, growing the total archive of this blog to 21 posts. There were 18 pictures uploaded, taking up a total of 1mb. That’s about 2 pictures per month.

The busiest day of the year was December 17th with 22 views. The most popular post that day was Politik di Balik Stimulus.

 

Where did they come from?

The top referring sites in 2010 were facebook.com, google.co.id, id.wordpress.com, id.search.wordpress.com, and mail.yahoo.com.

Some visitors came searching, mostly for militer indonesia, erix hutasoit, and majalah tempo edisi khusus hari kemerdekaan 13 – 19 agustus 2007, pergulatan demokrasi liberal 1950 – 1959: zaman emas atau hitam ?.

Attractions in 2010

These are the posts and pages that got the most views in 2010.

1

Politik di Balik Stimulus April 2009

2

Golongan Putih * February 2009

3

Dari Jakarta sampai Chile, Kebetulankah? (2) February 2009
1 comment

4

Sejarah (tak) Berseragam April 2009
3 comments

5

Erix Hutasoit February 2009

What Religious Leaders Can Be Learned from Terry Jones’ Plan?

JANET DALEY disagreed with the President of Indonesia, Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) who worried about Rev. Terry Jones’ plan to burn the Quran. According to Daley, SBY’s worry is excessive and unreasonable.

Daley does not believe that Jones’ plan might ruin the relationship between Islam and the western world; much less threaten the world peace. “President Yudhoyono of Indonesia apparently believes so,” Daley wrote on her article: US Nutter Plans to Burn Copies of the Koran: Can One Idiot Really ‘Threaten the World Peace’? (The Telegraph, Thursday, 9/9).

Baca lebih lanjut

(Bukan) Pidato Kempuh

PIDATO Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) (Rabu, 1/9) di jam ganjil soal sengketa Indonesia- Malaysia terbetik tak garang. Walau dilansir dari pusat komando angkatan perang, tapi mantan jenderal bintang empat itu tak menyebut langgam tempur. Presiden punguh berdiplomasi demi mendesak hormat dari negeri tetangga.

Baca lebih lanjut

The Violence and The Church

ON NEXT October the communion churches in three continents (Asia, Africa and Europe) under The United Evangelical Mission (UEM) will convene in Dar Er Salam, Tanzania. Theme of this assembly is Culture, Violence and the Churches.

Violence is often attacking the church especially in Indonesia. On Sunday (8/8), for example, the Indonesian’s Christian communities were shocked by unexpected attack. The Sunday prayer that organized by congregation of Huria Kristen Batak Protestan (HBKP) in Pondok Indah Timur, Bekasi, was forcibly dissolved by people who claim themselves as Moslem movement. Police failed to protect. The congregation was evacuated even though they have been 20 years prayer at that land.

Baca lebih lanjut

Indonesia Sekali Lagi

SAYA tidak meletakkan minat serius dengan Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) Kota Medan. Jika pilkada saya ibaratkan pertandingan sepak bola, maka saya hanya penikmat. Permainan indah dan menawan, itu yang saya apresiasi. Menang atau kalah tidak urusan saya.

Walau cuma penikmat, saya bukan pula penonton apatis. Tentu saya bereaksi jika pertandingan dibuat curang. Saya mengecam orang seperti Thiery Henry yang bermain “licik” saat melawan Irlandia. Biarpun Henry pemain kelas dunia, tapi perbuatannya tidak bisa ditolerir.

Belakangan pilkada membuat saya berpikir. Saya terusik setelah pasangan Sofyan Tan – Nelly Armayanti melaju keputaran dua. Bukan soal kemenangan Sofyan Tan, tapi soal stigma pribumi dan non pribumi yang kembali bangkit.

Baca lebih lanjut

Bukan Musik Kelas Dua

MJC tampil pada perayaan persahabatan Indonesaia- Amerika Serikat (AS) Sabtu (27/3) Foto: Riyanthi Sianturi

Syahdan Medan Jazz Community (MJC) sukses menuai kagum di ajang Java Jazz Festival 2010. Mengambil tema Batak Sensation, MJC mengandalkan perkawinan musik Barat dengan musik Batak sebagai magnus opus. Pemusik modern bermain satu panggung dengan punggawa musik Batak: drum bersanding taganing.

AWAL PERKAWINAN MJC RUPANYA TIDAK ROMANTIS. Tampil perdana di Merdeka Walk (Jumat, 12/2/2010) Batak Sensation berakhir timpang. Musik Batak dipaksa tunduk di bawah musik elektrik yang menjadi simbol musik Barat. Ketimpangan ini menuai kritik panjang dari Ahmad Arif Tarigan. Harian Analisa menyediakan satu halaman penuh menampung kritik Tarigan bertajuk Tradisiku Sayang, Tradisiku Malang (Analisa,28/2/2010).

Baca lebih lanjut

Sejarah (tak) Berseragam

Perjalanan Seorang Prajurit Para Komando.

Judul : Sintong Panjaitan, Perjalanan Seorang Prajurit Para Komando. Penulis :Hendro Subroto Tahun terbit : Maret 2009 Penerbit : Kompas Hal : XXX+520 ——————————————————————————————-

“Apapun yang ditulis tentang militer Indonesia. Pasti tidak lepas dari tiga hal: perang, politik dan konflik internal.”

TENTARA NASIONAL INDONESIA (TNI). Lahir dari tiga rahim berbeda. Koninklijk Nederlandsche Indische Leger (KNIL), Pembela Tanah Air (PETA) dan laksar-laskar rakyat. Semenjak lahir ketiganya sudah tidak akur.

Baca lebih lanjut

20 atau 13 (?)

PEMILU LEGISLATIF BERAKHIR SUDAH. Konon Partai Demokrat (PD) dinyatakan unggul. Tapi persentasenya masih gamang.

Pelbagai lembaga survey lewat metode hitung cepat (quick count) memprediksi PD memenangi20 persen suara. Perhitungan sementara Komisi Pemilihan Umum (KPU) sepertinya setali tiga uang. Pengamat politik kompak berkomentar: suara PD 20-21 persen.

Tapi saya melihatnya berbeda. Kemenangan PD setidaknya punya dua lubang. Pertama, secara kualitatif kemenangan PD bukan an sich disebabkan “kehebatan” program kerja Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) sebagai presiden. Kedua, secara kuantitatif, klaim media massa yang menulis PD memperoleh 20 persen suara, tidak sepenuhnya benar.

Baca lebih lanjut

Politik di Balik Stimulus

Catatan untuk Badikenita Putri Sitepu, SE, M.Si, DR candidat

“Ekonomi terlalu penting untuk hanya diurusi oleh ekonom saja,” Rev. Emmanuel Gerrit Singgih, Ph.D

PAKET STIMULUS ekonomi yang digelontorkan pemerintahan SBY-JK, kini ramai diperbincangkan. Badikenita Putri Sitepu, kandidat doktor ekonomi di Universitas Indonesia, salah satu ekonom yang ikut angkat bicara. Lewat artikel Stimulus Di tengah Perekonomian Yang Sulit (Analisa, 25/3/2009), Sitepu memberikan tiga point kritis yang harus diperhatikan pemerintah lewat stimulus itu.

Baca lebih lanjut

Mixed Economics

PEMILIHAN UMUM tinggal sebentar lagi. Persaingan antar partai politik (parpol) kian memuncak. Bidang ekonomi misalnya, persaingan itu telah mengkerucut menjadi tiga kutub: pro ekonomi pasar (market economics), pro ekonomi kerakyatan (peoples’ economic), dan ekonomi campuran (mixed economics).

Kubu market economics atau yang sering disebut neo-liberalisme diusung oleh Susilo Bambang Yudhoyono (SBY). Dalam gerbong ini ada sejumlah ekonom seperti Sri Mulyani, Chatib Basri yang terkenal sangat setia menjalankan Washington Consensus. Sedangkan kubu peoples’ economic diusung Prabowo Subianto dan ekonom Rizal Ramli. Dan kubu yang terakhir yaitu mixed economics, digagas orang-orang dari luar partai politik. Kolomnis Bersihar Lubis ada di kelompok ke tiga ini.

Sebagai alternatif dari dua kutub pertama, Bersihar menawarkan jalan tengah. Menurut Lubis, menolak kapitalisme jelas sulit. “ … karena Indonesia tidak bisa berdiri sendiri dalam perekonomian dunia,” kata Lubis. Setali tiga uang dengan pemikiran Moh. Sadli yang menawarkan Ekonomi Pancasila, Lubis menawarkan ekonomi campuran (mixed economics). “Gagasan itulah yang tercetus dalam Kongres I PSI pada 1952. PSI yang dipimpin Sjahrir menerima arus modal asing maupun kapitalisme liberal, tetapi harus dikontrol oleh negara dan parlemen…,” tulis Lubis dipenghujung artikelnya, “Terima Kasih, Sjahrir” (Harian Medan Bisnis, 6/3/09).

Bagi saya, mixed economics yang ditawarkan Bersihar menarik untuk di diskusikan lebih lanjut. Setidaknya ada dua pertanyaan yang menarik untuk ditemukan jawabannya: pertama, akankah kapitalisme bersedia dikontrol oleh negara dan parlemen? kedua, mampukah negara dan parlemen mengontrol kapitalisme?

Baca lebih lanjut

Control Capitalism (?)

Notes for Bersihar Lubis

BERSIHAR LUBIS, Indonesian top journalist, wrote an article with entitle,” Terima Kasih, Sjahrir” (Harian Medan Bisnis, 6/3/2009). His wrote its article for the 100th of Sjahrir inauguration days. During Sjahrir’s life, his had known as a thinker cum politician cum strength’s fighter. Together with another Trio’s Minang such as Tan Malaka and Moh. Hatta, Sjahrir’s popular as a legend in the beginning of Indonesian independence histories.

Lubis’ article appeared when a competitions among political parties going to the top. On economic as example, competitions were creating two groups: pro market economic versus pro peoples economic. On Lubis article, it had recognize as : first, anti neo-liberalism, which promoted by Prabowo Subianto and Rizal Ramli, second, the old ways groups (neo-liberalism), which is protected by Susilo Bambang Yudhoyono.

The alternative from those groups, Lubis proposing a middle way. According to Lubis, rejected capitalism is impossible.”…Because Indonesian can not standing alone on world’s economic,” Lubis said.

It is in line with an idea that ever proposed by Mohammad Sadli in Pancasila’s Economic at New Order regime. Lubis proposing also: mixed economic.” Thats ideas appear at the first national congress of PSI at 1952. PSI which leading by Sjahrir accepting foreign capital or liberal capitalism, but its must took under control by government and parliament. Thank you, Bung Sjahrir,” Lubis’ added in the end of his article.

At my perspective, at least it’s made propose two questions: first, whether capitalism would be prepared to be controlled by government and parliament? Second, what they can do that?

Baca lebih lanjut

Golongan Putih *

GOLONGAN PUTIH (GOLPUT) belakangan ini menjadi topik obrolan yang paling seru. Topik ini dibahas habis-habisan mulai orang gedongan sampai yang kampungan, dari orang yang paling alim sampai yang paling berdosa. Siapa saja menjadi merasa tidak sah, kalau tidak mengutip langgam golput., baik cuma sekadar berkomentar, mengamati atau sampai yang paling berat: memberikan analisis yang canggih-canggih.

Tiba giliran kita untuk mendiskusikan topik hangat ini. Menurut saya, memahami fenomena golput, tidak bisa lagi an sich merujuk gerakan golput di tahun 1971. Itu sebabnya saya memulai diskusi ini dengan mengajukan tesis: “ golput pasca 1999an agak berbeda dengan golput 1970an (1970-1972)”. Untuk mensistematiskan diskusi, saya membagi naskah menjadi empat bagian: (1) Analisis 1968-1997; (2) Analisis 1999-2009; (3) Perbandingan; dan (4) Penutup.

Baca lebih lanjut

Brutalisme Elit

Demokrasi prosedural selalu mengisyaratkan adanya dua pilar: parlemen dan civil liberties (kemerdekaan warga). Hanya saja dalam praktik kedua pilar ini sering cekcok yang berujung chaos. Kebrutalan seperti yang terjadi di gedung Dewan Perwakilan Rakyat Sumatera Utara (DPRDSU) pada Selasa (3/2) adalah contoh.

Baca lebih lanjut

Barrack Obama: dilema the rising star

RASA PENASARAN Amien Rais, akademicus cum politikus itu seperti mau meledak. Sudah lama Guru Besar Ilmu Politik Universitas Gajah Mada (UGM) ini menebak-nebak arah pendulum politik luar negeri Barack Husein Obama, presiden Amerika Serikat (AS) ke 44. Dan begitu Obama dilantik, rasa penasaran bekas Ketua MPR periode 1999/2004 itu seolah menemukan jawab. Setelah menyimak pidato Obama, Amien berkesimpulan kalau si Barry (panggilan akrab Obama selama di Indonesia) tidak beda dengan para pendahulunya. “…tidak ada yang berubah,” kata Amien kepada presenter dari Trans TV (Selasa, 20/01).

Baca lebih lanjut

Kekeliruan tentang Calon Independent

KEPUTUSAN Mahkamah Konstitusi (MK) yang memberikan celah bagi calon independen, disambut dengan euforia dimana-mana. Bahkan euforia itu kini menjurus menjadi kekeliruan. Seolah-olah calon independenlah solusi dari kemandekan demokrasi yang telah lama mendera Indonesia.

Sejumlah kekeliruan itu berseleweran dalam bentuk opini dipelbagai media massa. Ada pengamat politik yang menulis demokrasi Indonesia seolah sempurna dengan adanya calon independen. Bahkan demokrasi Indonesia disejajarkan pula dengan Amerika Serikat (AS). Kenapa AS? karena menurut pengamat itu, AS lah ‘kampiun’ nya demokrasi.

Baca lebih lanjut

Tambahan untuk DR. Syahir

Mitos Investasi dalam Paradoks Ekonomi Indonesia

DR. Syahir, anggota Dewan Pertimbangan Presiden bidang ekonomi, mengakui investasi besar yang masuk ke Indonesia saat ini, tidak mencerminkan sektor ekonomi rill (nyata) . Bahkan DR. Polin Naipospos, ekonom-cum asal Sumatera Utara, mengatakan dengan gamblang,“Ada paradoks dalam ekonomi Indonesia”. DR. Polin menjelaskan lebih lanjut, investasi besar itu seharusnya menyerap tenaga kerja dan mengurangi kemiskinan. Tapi nyatanya berbeda. Kemiskinan semakin bertambah dan kualitas kehidupan rakyat terus menurun. Keadaan itulah yang disebut DR. Polin sebagai paradoks.

Paradoks itu terkuak dalam seminar sehari ISEI (Ikatan Sarjana Ekonomi Indonesia) cabang Medan. Seminar yang di gelar pada hari Kamis (24/5) bertajuk “Indonesia Pasca Resuffel Kabinet II”. Hanya saja DR. Syahrir maupun DR. Polin tidak membahas dengan tuntas kenapa paradoks itu bisa terjadi. Padahal bicara paradoks ekonomi, tidak boleh tidak, kita harus membahas ‘mitos’ investasi. Mitos itulah yang coba saya uraikan dalam tulisan ini.

Baca lebih lanjut

Kekeliruan di Fakultas Ekonomi

SENIN (5/5/08)  saya melihat melalui layar televisi, Menko Perekonomian Boediono mengumumkan rencana kenaikan harga BBM. Menteri yang sebentar lagi menjadi Gubernur Bank Indonesia itu, menyampaikan keputusan yang menyakitkan bagi jutaan warga Indonesia. Dengan kenaikan itu diprediksi terjadi penambahan orang miskin baru sebanyak 15,68 juta jiwa.

Inilah yang membuat saya bertanya,” Kenapa ekonom-ekonom ini begitu pragmatis? Tidak kah mereka punya ideologi untuk memihak warga miskin?”

Baca lebih lanjut