20 atau 13 (?)

PEMILU LEGISLATIF BERAKHIR SUDAH. Konon Partai Demokrat (PD) dinyatakan unggul. Tapi persentasenya masih gamang.

Pelbagai lembaga survey lewat metode hitung cepat (quick count) memprediksi PD memenangi20 persen suara. Perhitungan sementara Komisi Pemilihan Umum (KPU) sepertinya setali tiga uang. Pengamat politik kompak berkomentar: suara PD 20-21 persen.

Tapi saya melihatnya berbeda. Kemenangan PD setidaknya punya dua lubang. Pertama, secara kualitatif kemenangan PD bukan an sich disebabkan “kehebatan” program kerja Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) sebagai presiden. Kedua, secara kuantitatif, klaim media massa yang menulis PD memperoleh 20 persen suara, tidak sepenuhnya benar.

Menurut George Junus Aditjondro dalam Di Balik Misteri Kemenangan Demokrat (2009). Kemenangan PD disebapkan tiga hal. Pertama, citra SBY sebagai incumbent President, di mana partainya secara sefihak mengklaim “jasa” atas berbagai keberhasilan program ekonomi pemerintah. Kedua, pembelian suara; dan ketiga, kelihaian Tim Sukses SBY menyulap jasa duet SBY-JK dalam perdamaian di Poso dan Aceh menjadi monopoli SBY dan Demokrat.

Sejurus dengan Aditjondro, saya menyimpulkan: kemenangan PD tertetak pada kemampuan “membungkus” pekerjaan SBY yang biasa-biasa, menjadi tampak luar biasa. Nurudin dalam Komunikasi Propaganda (2001) mengklasifikasikan teknik “membungkus” itu sebagai Glittering Generalities. Teknik ini mengasosiakan sesuatu dengan “kata bijak” yang digunakan untuk membuat kita menerima dan menyetujui hal itu tanpa memeriksanya terlebih dahulu.

Saya mengajukan contoh sederhana. Dalam iklan PD menyebut SBY telah menurunkan harga BBM sampai tiga kali. Penurunan itu diklaim sebagai sejarah sekaligus prestasi. Dampak lainnya, harga-harga yang sempat naik katanya akan turun . Akan tetapi di Medan, ongkos angkutan sampai sekarang masih tetap Rp.3000,- per eastafet. Padahal sebelum BBM naik, ongkos cuma Rp.2.500,- per estafet.

Dari segi kualitatif, penulisUnfinished Nations: Indonesian Before and After Soeharto (2008), Max Lane, punya pendapat berbeda. Menurut Lane, PD tidak benar meraup 20 persen suara. ”Dalam balapan pemilu elit, “unggul” lebih tepat daripada “menang”. Kemenangannya Demokrat 21% suara daripada k.l. mungkin 60% daripada rakyat yg berhak milih – yang lainnya GOLPUT/tak terdaftar. Jadi 21% dari 60% = 13%. Partai yang menang dgn 13% dukungan masyarakat adalah kemenangan yang ditolak 85% masyarakat. Berarti GOLKAR dan PDIP dukungannya k.l. 7-9% dari masyarakat,” tulis peneliti politik di Murdorch University, Australia itu di facebooknya.

Mari kita bermate-matika sebentar. Dari sekitar 170 juta pemilih yang terdaftar. Menurut Lane, hampir 40 persen (68 juta) orang memilih golput. Itu artinya hanya ada sekitar 102 juta suara tersisa untuk diperebutkan. Menurut Lane lebih lanjut, PD yang digadang-gadang sebagai pemenang itu, hanya mendapatkan 13 persen suara. Jika dikalkulasi dalam bentuk angka, PD mendapatkan sekitar 22,10 juta suara. Dalam kalimat berbeda dapat dibaca: dari 8 orang pemilih yang terdaftar, hanya satu orang yang memilih PD.

Bagaimana dengan Partai Golkar (PG) dan Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDI-P)? PG dan PDI-P diprediksi meraup 7-9 persen suara. Itu sama artinya PG dan PDIP diprediksi mendapatkan 13,60-15, 30 juta suara.

Ironisnya, suara PD, Golkar dan PDI-P itu masih kalah jauh dengan suara golput. Dimana dari tiga orang pemilih yang terdaftar, satu orang dipastikan golput. Ataudari 25 orang pemilih terdaftar, diprediksi: 3 orang memilih PD, 1 orang memilih PG, 2 orang memilih PDI-P, dan 8 orang golput.

Dengan sederet fakta-fakta itu, ada tiga hal yang bisa disimpulkan:

Pertama, dari segi angka partisipasi, pemilu 2009 adalah pemilu dengan angka partisipasi terendah. Sehingga cukup pantas disebut sebagai pemilu paling buruk dalam sejarah Indonesia.

Kedua, kemenangan PD tidak bisa diartikan sebagai kemenangan rakyat. Karena secara kuantitatif jumlah pemilih PD masih lebih rendah dibandingkan angka golput.

Ketiga, indikasi “penyakit” serius dalam demokrasi Indonesia semakin menguat. Sepertinya kita demokrasi tidak lagi berjalan kearah yang tepat ( we are not on the track).

Bagi orang bijak fenomena ini adalah peringatan. Mengutip pepatah lama: adat muda menanggung rindu, adat tua menahan ragam. Jika demokrasi yang sudah sakit-sakitan ini, tak kunjung diobati. Maka jangan salahkan rakyat jika kelak menyerbu istana (*)

Referensi:

George Junus Aditjondro, Di Balik Misteri Kemenangan Demokrat, dalam Arianto Sangaji, http://www.facebook.com/inbox/?ref=mb#/note.php?note_id=81930867568

Nurudin, Komunikasi Propaganda, Rosda, Jakarta, 2001.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s