Sejarah (tak) Berseragam

Perjalanan Seorang Prajurit Para Komando.

Judul : Sintong Panjaitan, Perjalanan Seorang Prajurit Para Komando. Penulis :Hendro Subroto Tahun terbit : Maret 2009 Penerbit : Kompas Hal : XXX+520 ——————————————————————————————-

“Apapun yang ditulis tentang militer Indonesia. Pasti tidak lepas dari tiga hal: perang, politik dan konflik internal.”

TENTARA NASIONAL INDONESIA (TNI). Lahir dari tiga rahim berbeda. Koninklijk Nederlandsche Indische Leger (KNIL), Pembela Tanah Air (PETA) dan laksar-laskar rakyat. Semenjak lahir ketiganya sudah tidak akur.

KNIL digagas Vereniging Oast Indishe Compagnie (VOC). Maskapai perdagangan Belanda di Hindia Belanda (Indonesia). Gagasan membentuk KNIL muncul setelah perang Diponegoro. VOC mengalami kerugian besar. Lebih dari 15000 serdadu terbunuh.

VOC butuh tentara. Tapi orang Belanda kelas atas, ogah memanggul bedil. Mereka hanya mau jadi perwira. Sebagai “umpan” peluru, akhirnya direkrut gelandangan dari “comberan” Eropa (The Shrink-hole of Europe). Sisanya ditambah orang pribumi yang pro VOC.

Serdadu KNIL didik ala Belada. Dilatih bertempur dan administrasi militer. Mereka tinggal ditangsi. Hidup terpisah dari warga biasa.

PETA dibentuk di tahun 1943. Jepang terdesak dalam perang Asia-Pasifik. Sejak Agustus tahun itu, pertempuran didominasi sekutu. Jepang kekurangan tentara (man power). Di Pasifik Utara, Jepang mulai kalah.

Oktober 1943 Jepang membentuk genjumi guntai (tentara pribumi). Di Indonesia pembentukan itu direalisasikan lewat Osamu Seirei No.44. Isinya pembentukan PETA disetiap wilayah.

Sukarelawan PETA direkrut dari orang-orang pribumi. Mereka dilatih keahlian militer ala Jepang. Kejam dan keras. Mereka juga di upah yang lebih besar dari serdadu Matahari Terbit. Itu sebabnya, banyak orang pribumi yang tertarik menjadi sukarelawan.

KNIL dan PETA bagai pinang dibelah dua. Punya dua kesamaan. Pertama, dibentuk untuk keperluan penjajah. Kedua, orang pribumi yang direkrut, hanya punya satu tujuan: mendapat upah sebagai serdadu bayaran.

Laskar rakyat terlahir dari tentara non-reguler. Diisi oleh pemuda-pemuda. Mereka tidak pernah mendapatkan pendidikan militer resmi. Tapi militan.

Setelah Jepang menyerah pada sekutu di tahun 1945. Peta politik di Indonesia berubah. Indonesia sudah merdeka. Tapi Belanda tidak mengakuinya. Perang akhirnya pecah.

Mengahadapi Belanda, Indonesia membentuk Tentara Keamanan Rakyat (TKR). Anggotanya diambil dari eks KNIL, eks PETA dan laskar-laskar.

Tapi pembentukan ini menuai konflik. Laskar “enggan” berjuang bersama eks KNIL dan eks PETA. Alasannya, karena KNIL dan PETA adalah warisan penjajah. Sebaliknya eks KNIL dan eks PETA menggap laskar tidak paham soal militer dan strategi perang.

Di medan tempur, laskar lebih “unggul” dari tentara reguler. Laskar lebih leluasa bergerak dalam medan gerilya. Itu disebabkan laskar mendapat dukungan penuh dari rakyat. Sebaliknya eks KNIL dan eks PETA kurang mendapat dukungan. Kondisi ini membuat tentara reguler kurang suka dengan laskar.

Pada 24 Januari 2005, konflik antar tentara reguler dan laskar berakhir. Amir Sjarifoedin, Menteri Pertahan kala itu, mengeluarkan keputusan tentang Tentara Republik Indonesia (TRI). Melalui keputusan itu, TRI menjadi satu-satunya tentara resmi Republik Indonesia. Eks KNIL dan eks PETA mendapat tugas untuk memimpin TRI.

Setelah Indonesia merdeka, konflik antar eks PETA dan eks KNIL pecah. Awal mula konflik sudah tumbuh dari masa pendudukan Jepang. Konflik semakin menjadi-jadi, ketika Kolonel A.H Nasution mencanangkan program rekonstruksi dan rehabilitasi (re-ra).

Ide Nasution yang eks KNIL, ditentang eks PETA. Bagi eks PETA, ide Nasution tidak lebih cara untuk membuang eks PETA dari militer. Ide ini mengembalikan ingatan pada persaingan Urip Sumoharjo dan Sudirman, dalam perebutan posisi panglima Besar pada 12 November 1945.

Konflik re-ra hanyut ke ranah politik di tahun 1952. Saat itu Indonesia menganut demokrasi parlementer. “Baju kotor” militer dijadikan issue politik. Militer tidak terima. Politisi sipil dianggap tidak berhak mengurus internal militer. Selain itu, politis sipil dianggap tidak becus.”…waktu perang gerilya kalian kemana? Ketika itu tidak ada orang partai yang turun ketengah rakyat…,” ungkap Djatikusumo.

Pada 17 Oktober 1952, militer membalas. Militer melakukan Najib Style Coup (kudeta gaya Najib). Pagi-pagi hari, 30.000 orang yang diorganisir militer, menyerbu gedung parlemen. Meriam dipasang dimenghadap Istana Negara. Nasution memimpin rombongan militer menghadap presiden menuntut pembubaran parlemen. Presiden Soekarno menolak.

Walau Najib Style Coup gagal. Tapi sejak 17 Oktober itu, militer Indonesia berubah. Militer tidak lagi “netral” dari politik. Pada 11 November 1958, Nasution “meresmikan” politik-militer.” … Tentara Indonesia dengan demikian tidak ingin sekedar menjadi alat mati dari pemerintahan yang sedang berkuasa,” kata Nasution di Akademi Militer Nasional (AMN) Malang.

Ide Nasution itu belakangan dikenal sebagai konsep “jalan tengah”. Dan sejak itu militer Indonesia terseret dalam arus politik dan konflik perebutan kekuasaan yang tiada henti.

Buku Sintong Panjaitan ini membantu melihat realitas itu. Buku ini banyak bercerita pengalaman tempur dan konflik internal. Sebagai anggota Komando Pasukan Khusus (Kopasus), Sintong kaya akan pengalam tempur. Namun culture militer Indonesia yang dekat dengan politik, membuat Sintong ikut terseret.

Bagi saya buku Sintong ini, memperkaya sejarah militer. Setidaknya sejarah militer Indonesia tidak lagi seragam seperti masa Orde Baru (ORBA) (*)

Referensi:

Coen Husain Pontoh, Menolak Mitos Tentara Rakyat, Resist book, Yogyakarta, 2005.

Harold Church, Militer & Politik di Indonesia, Cetakan II, Pustaka Sinar Harapan, Cetakan, Jakarta, 1999.

M. Nazib Azca, Hegemoni Tentara, LKiS, Yogyakarta, 1998.

Petrik Matanasi, KNIL Bom Waktu Tinggalan Belanda, MediaPress, Yogyakarta, 2007.

4 thoughts on “Sejarah (tak) Berseragam

  1. Ping-balik: 2010 in review | Erix Review

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s