Bukan Musik Kelas Dua

MJC tampil pada perayaan persahabatan Indonesaia- Amerika Serikat (AS) Sabtu (27/3) Foto: Riyanthi Sianturi

Syahdan Medan Jazz Community (MJC) sukses menuai kagum di ajang Java Jazz Festival 2010. Mengambil tema Batak Sensation, MJC mengandalkan perkawinan musik Barat dengan musik Batak sebagai magnus opus. Pemusik modern bermain satu panggung dengan punggawa musik Batak: drum bersanding taganing.

AWAL PERKAWINAN MJC RUPANYA TIDAK ROMANTIS. Tampil perdana di Merdeka Walk (Jumat, 12/2/2010) Batak Sensation berakhir timpang. Musik Batak dipaksa tunduk di bawah musik elektrik yang menjadi simbol musik Barat. Ketimpangan ini menuai kritik panjang dari Ahmad Arif Tarigan. Harian Analisa menyediakan satu halaman penuh menampung kritik Tarigan bertajuk Tradisiku Sayang, Tradisiku Malang (Analisa,28/2/2010).

Setidaknya ada dua lubang besar yang dikritik Alumni Etnomusikologi Universitas Sumatera Utara (USU) itu. Pertama, soal konsep; dan kedua, soal kemampuan teknis.

Di mata Mahasiswa USU Terbaik Bidang Seni Budaya 2008 itu, tema Batak Sensation yang diusung MJC menyimpan watak apologitik. Lewat penyajian sejarah dan pendalaman kata yang serius tentang Batak Sensation, Tarigan berkesimpulan: musik Batak dan musik Barat harus berdiri sejajar dalam musikalitas MJC. ”Tidak ada menjadi dominan melainkan peleburan nan harmoni,” tulis Tarigan.

Belakangan watak apologitik Batak Sensation terbongkar. Selama tampil, MJC menempatkan musik Batak lebih rendah setingkat dari musik Barat. Tarigan melacak suara melodik taganing misalnya, tidak dibuat tampil maksimal. Berbeda dengan musik Barat yang begitu menonjol.

“Musik tradisi terkesan menjadi ‘tempelan’ saja,”  kritik Tarigan.

Di bidang teknis, Tarigan menemukan selusin kelemahan. Empat vokalis (satu pria dan tiga perempuan) yang merinai malam itu, rutin melakukan kesalahan mendasar: tidak hafal lirik, artikulasi tidak jelas, dan lain-lain. Bahkan untuk lagu Karo, Erkata Bedil, Tarigan mengkritik keras ketidakmampuan vokalis bernyanyi dalam dialek Karo. “Kita tidak (mau) tahu latar belakang sang penyanyi (backstage). Jelasnya saat di atas panggung, sang penyayi harus berdialek Karo (frontstage)…,” tulis Tarigan lebih lanjut.

Menurut saya, kritik Tarigan beranjak dari keterjebakan MJC menampilkan sensasi musik Batak dalam semangat fusion jazz. Di mana easy listening (enak didengar) menjadi pakem utama aliran fusion. Ini yang membuat MJC lebih menonjolkan musik elektrik ketimbang musik Batak. Tentu saja, karena musik elektrik lebih aman memastikan musik jadi easy listening.

Lantas apakah “keterjebakan” ini by accident atau by setting?

Heru Nugroho, doktor sosilogi jebolan Universitas Bielfeld, Jerman menolak tegas dominasi fusion sebagai by accident. Dalam McDonaldlisasi Jazz di Indonesia (2001) Nugroho menyimpulkan: pemiskinan (jazz) karena kecenderungan hanya gaya permainan fusion (pop, rock, punk yang dipadu  dengan jazz) yang menonjol. Penonjolan ini memang disengaja.

Sejatinya jazz adalah musik pembebasan. Ia lahir dari rahim penindasan orang kulit hitam di Amerika Serikat (AS). Budak-budak kulit hitam yang dikorbankan selama pembangunan rel kereta api melawan lewat pelbagai cara; termasuk dengan kebudayaan (culture). Melalui musik dari tanah nenek moyang, mereka meluapkan emosi yang tak terperikan. Luapan ini kemudian yang menghasilkan musik blues sebagai cikal bakal musik jazz.

Diskriminasi rasial di AS abad 18 turut memicu perkembangan musik jazz. Gereja terbelah menjadi dua: gereja kulit hitam dan gereja kulit putih. Zaman itu dikenal sebagai The Second Awakening di mana gereja kulit hitam tampil ekspresif. Sifat ekspresif ini, tidak lain bentuk ungkapan rasa ketertindasan. Ungkapan ini pula, kemudian melahirkan musik jenis spiritual dan gospel yang juga menjadi musik embrio dalam perkembangan jazz.

Jazz sejak abad ke-18 hingga sekarang telah berkembang ke dalam berbagai gaya permainan yang unik seperti Ragtime, New Orleans, Dixie land, New Orleans in Chicago, Kansas City, Chicago, Swing, New Orleans and Dixieland Revival, Beobob, Cool, Harbop, Free, Mainstream, Fusion, Neobob, Free Funk, Classicim, Neo-Classicim, No Wave, dan World Music (Nugroho; 123).

Belakangan semangat anti penindasan dalam jazz meredup seiring globalisasi ekonomi. Semangat meraup untung telah menutup ruang bagi jazz “berat”. Jazz dipaksa tampil sederhana seperti makanan cepat saji, Mc Donald, yang bisa dijual massal di mana saja dengan rasa yang sama. Fusion dengan easy listening-nya seolah-olah diplot menjadi pakem tunggal dalam jazz; yang tidak easy listening bukan jazz (?)

Berbagai pertunjukan fusion digelar dengan jumlah penonton yang relatif besar. Orang-orang seperti Lee Ritenour, Dave Grusin, Dave Valentin, Dave Weckl, Dave Koz, David Bernoit, Tom Scott, Bob James, Kenny G. atau kelompok SpyroGyra, Casiopea, Yellow Jackets, Mezzoporte, special EFX, Acoustic Alchemy, dan lain-lain menjadi terkenal dan seolah-olah menjadi pionir jazz di negara-negara sedang berkembang, meskipun sebetulnya mereka bukan avant garde (garis depan) dalam perkembangan jazz dunia saat ini, atau barangkali justru mereka berada di pinggiran perkembangan jazz dunia (Nugroho; 128).

Sejak itu, jazz resmi memasuki babak baru sebagai musik profit. Sebagai barang dagang, jazz dipaksa tampil instan untuk menjamin easy listening. Kampanye easy listening ini semakin membahana lewat bantuan media massa.

Menukil Fred Wibowo dalam Kebudayaan Menggugat (2007) yang menyebut, ”… dalam kondisi demikian, kebudayaan yang berkembang di media adalah kebudayaan yang selalu ada kaitannya dengan kepentingan bisnis. Kebudayaan rakyat boleh dikatakan tidak seberapa besar memeroleh tempat di dalam media yang hanya merupakan kendaraan untuk kepentingan komersial.” Maka kita bisa mahfum dengan keraguan Tarigan atas niat baik MJC melestarikan musik Batak.

”Kita tidak usah menggemborkan ‘usaha pelestarian musik’ tradisi,” cetus Tarigan.

***

Sepertinya MJC belajar dari kritik. Setelah ramai menuai iktirad, MJC segera merombak penampilan. Sejumlah personil dicopot. Konon, formasi baru ini sukses menuai puja-puji di Java Jazz Festival.

Pasca-Java Jazz, MJC kembali tampil di Medan. Kali ini dalam gawean Perayaan Persahabatan Indonesia-Amerika Serikat (Sabtu, 27/3). Formasi baru rupanya membuat musikalitas MJC makin percaya diri. Musik Batak yang kemarin ogah digeber, kini semakin berani dieksplorasi.

Musik Batak malam itu bagai gadis perawan yang lepas dari pingitan. Martahan Sahat Sitohang, Brevin Tarigan dan Bonggud Tyson Sidabutar membuat musik Batak yang dicap katrok, berdiri tegak di hadapan musik Barat. Permainan memukau mereka, menegaskan musik Batak bukan musik kelas dua.

Personil MJC juga tampil energik dan aktraktif dalam balutan hitam-putih berbalut Ulos di pinggang. Kehadiran vokalis Natalina Siregar cukup membawa warna baru. Perayaan semakin sempurna dengan kehadiran Yeppi Romero Pangaribuan, gitaris eksterik cum vokalis dari Jakarta. Permainan solo maupun koloborasi Yeppi bersama MJC membuat penonton enggan beranjak.

Puncaknya saat Lagu Sega Na Ma Ho yang bertempo dinamis direparasi ulang oleh Sihotang dan Sidabutar. Lewat duet seruling mereka menghipnotis penonton yang menyemut di Merdeka Walk, Medan. Tidak sedikit penonton yang terkejut bercampur kagum. Banyak pula yang tak menduga, bunyi seruling yang statis bisa digasak dinamis. Bahkan Konsul AS di Medan, Sean Harsa, dibuat berjingkrak-jingkrak di sudut panggung.

Lepas dari buruknya sound system ditambah performance kurang ajek vokalis laki-laki pada lagu Sigulempong di penghujung gawean. Selebihnya, MJC telah banyak berubah pasca-“kawin paksa” yang menuai kritik. Walau masih didominasi fusion jazz, tapi keberanian MJC mengeksplorasi musik Batak haruslah diapresisasi. Paling tidak, musik tradisi seperti musik Batak tidak lagi direndahkan oleh anak sendiri (*)

2 thoughts on “Bukan Musik Kelas Dua

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s