Indonesia Sekali Lagi

SAYA tidak meletakkan minat serius dengan Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) Kota Medan. Jika pilkada saya ibaratkan pertandingan sepak bola, maka saya hanya penikmat. Permainan indah dan menawan, itu yang saya apresiasi. Menang atau kalah tidak urusan saya.

Walau cuma penikmat, saya bukan pula penonton apatis. Tentu saya bereaksi jika pertandingan dibuat curang. Saya mengecam orang seperti Thiery Henry yang bermain “licik” saat melawan Irlandia. Biarpun Henry pemain kelas dunia, tapi perbuatannya tidak bisa ditolerir.

Belakangan pilkada membuat saya berpikir. Saya terusik setelah pasangan Sofyan Tan – Nelly Armayanti melaju keputaran dua. Bukan soal kemenangan Sofyan Tan, tapi soal stigma pribumi dan non pribumi yang kembali bangkit.

Sekali ketika saya mendengar ada orang yang berkata, “Apakah kau mau Kota Medan dipimpin non pribumi?”. Di facebook seorang kawan, saya membaca komentar keras,”… Kalo bukan orang pribumi yang pimpin matilah kita semua, orang pribumi akan dijadikan budak/tukang sapu.”

Saya mahfum jika pribumi yang dimaksud adalah orang Indonesia. Saya setuju Kota Medan dipimpin pribumi. Saya pasti ikut menolak, jika Walikota Medan diimpor dari luar negeri; warga negara asing misalnya. Tapi jika yang dimaksud bukan pribumi itu adalah Sofyan Tan – hanya karena “darah Tionghoa” mengaliri tubuhnya, saya kira orang itu sedang melakukan kesilapan serius.

Saya mencoba melacak siapa yang dimaksud pribumi. Dalam pelacakan itu, saya menemukan jawaban umum. Pribumi adalah orang Indonesia asli. Ia dipahami sebagai penghuni asli Indonesia. Keturunan Tionghoa bukan pribumi karena datang dari luar Indonesia.

Kalau begitu, mari kita periksa satu persatu kebenaran jawaban di atas. Jika pribumi adalah orang Indonesia asli, maka saya bertanya,” Siapa orang Indonesia asli itu dan sejak kapan ia ada?”

Tiga Gelombang Migrasi Awal

Bernard H.M Vlekke menulis buku berbobot tentang Indonesia bertajuk Nusantara; A History of Indonesia (1961). Pada bab-bab awal Vlekke bicara panjang soal nenek moyang asli orang Indonesia. Mengutip penelitian duo Sarasin, F. dan P. Sarasin dalam Die Weddas von Ceylon und Die Sie Umgebenden Volkerchaften (1829-93) dan Versus einer Anthropologie der Insel Celebes (1905), Vlekke merujuk tiga gelombang awal migrasi ke Indonesia: Negrito, Proto-Melayu (Melayu Tua) dan Deutro-Melayu (Melayu Muda).

Menurut teori duo Sarasin, populasi asli Kepulauan Indonesia adalah suatu ras berkulit gelap dan bertubuh kecil, dan ras ini awalnya mendiami seluruh Asian bagian Tengara. Wilayah itu adalah suatu daratan yang solid pada zamannya.

Sarasin menyimpulkan bahwa ras berkulit hitam dan bertubuh kecil itu adalah orang Vedda. Vedda adalah suku bangsa yang terkenal di Ceylon (Sri Lanka). Termasuk dalam suku bangsa Vedda adalah suku Hieng di Kamboja, Mioa-tse dan Yao-jen di Cina dan Senoi di semenangjung Malaya. Selain suku bangsa Vedda, ada juga orang-orang liar yang hidup di hutan Sumatra (Kubu, Lubu dan Mamak) serta Toala di Sulawesi.

Kumpulan bukti antropologis dan arkeologis tampaknya menunjukkan bahwa populasi tertua Kepulauan Indonesia berhubungan erat dengan nenek moyang orang Malenesia masa kini dan bahwa “orang Vedda” yang disebut Sarasin tersebut masuk ras Negrito yang walaupun jarang, masih terdapat di seluruh Afrika, Asia Selatan dan Ocenia. Jadi Vedda adalah “imigran” pertama yang masuk ke dunia pulau yang sudah berpenghuni dan masih dapat dibedakan dari pendahulu mereka berkat model perkakas batu yang mereka tinggalkan. Kedua ras itu pastilah hidup di tahap “mesolitik” budaya primitif (Vlekke: 9).

Setelah Ras Negrito yang diwakili orang Vedda, dua gelombang ras yang sama menyusul. Gelombang pertama adalah Proto-Melayu dan gelombang kedua disebut Deutro-Melayu. Kedatang ras Melayu ini membuat Ras Negrito terdesak kearah timur. Pilihan bagi ras Negrito hanya ada tiga: menyingkir, berbaur atau musnah.

Proto-Melayu berasal dari Cina, diperkirakan mereka hidup diwilayah Provinsi Yunnan. Proto-Melayu dianggap sebagai nenek moyang dari Melayu Polenesia yang tersebar dari Madagaskar sampai ke pulau-pulau paling timur di pasifik. Kedatangan Proto-Melayu diduga berlangsung pada 3.000 Sebelum Masehi (SM).

Sekitar 2000 tahun setelah kedatangan Proto-Melayu, gelombang kedua (Deutro-Melayu) tiba di Indonesia. Deutro-Melayu datang dengan tingkat kebudayaan yang lebih tinggi. Deutro-Melayu diidentifikasikan sebagai orang yang memperkenalkan perkakas dan senjata besi ke Indonesia. Studi mengenai perkembangan peradapan Indocina menunjukkan tanggal bagi peristiwa itu: migrasi terjadi antara 300 atau 200 SM.

Pembauran antara Proto-Melayu dan Deutro-Melayu berlangsung secara bebas. Persamaan akar budaya dan asal usul membuat proses berlangsung mudah dan meluas. Dalam perkembangannya Proto-Melayu dianggap mencakup Gayo dan Alas di Sumatera bagian Utara dan Toraja di Sulawesi. Hampir semua orang lain di Indonesia, kecuali orang Papua dan pulau-pulau sekitarnya, dimasukkan dalam kelas Deutro-Melayu. Oleh Vlekke, orang-orang inilah yang disebut: “orang Indonesia”.” …karena tidak ada keraguan bahwa mereka adalah nenek moyang orang Indonesia masa kini,” tulis Vlekke.

Kesimpulan Vlekke sebelas dua belas dengan analisis  DR. Deni Bevly  dalam Meniti Masa Depan Yang Damai (2009). Merujuk penelitian anthropologi, Bevly membagi ras Indonesia atas empat golongan besar. Pertama, Negrito yang keturunannya terdiri dari Suku Tapiro di Papua. Kedua, Wedda yang  terdiri dari suku Toala di Sulawesi Barat Daya dan suku kubu di Sumatera Selatan. Ketiga, Melayu Tua (Proto-Malayan) yang keturunannya antara lain Suku Batak di Sumatera Utara dan Suku Dayak di Kalimantan. Keempat, Melayu Muda (Neo-Malayan/Deutro-Melayu) yang keturunanya antara lain adalah suku Jawa, Bali, Bugis, Makassar, Ternante dan suku yang berbahasa Minangkabau.

Kelompok pertama, Negrito dan Kedua, Wedda adalah ras Negroid, sedangkan kelompok ketiga, Melayu Tua dan keempat, Melayu Muda adalah ras Mongoloid. Melayu Tua merupakan kelompok arus migrasi besar pertama dari Yunnan, Tiongkok Selatan yang terjadi pada tahun 3000 – 5000 SM. Sedangan Melayu Muda termasuk migrasi besar dari daerah yang sama pada tahun 200-300 SM. “Mereka berimigrasi secara besar-besaran agaknya untuk menghindari peperangan dan bencana alam di Tiongkok (Cina),” tulis analis Overseas Think Tank for Indonesia itu.

Kesimpulan yang tidak jauh berbeda juga datang dari Drs. DJ. Gultom Rajamarpodang. Dalam buku Dalihan Na Tolu; Nilai Budaya Suku Batak (1992) Gultom menemukan Suku Batak bukanlah suku yang berasal dari Nusantara. Dalam penelusurannya, Gultom membagi sejarah Batak menjadi dua: 1) Kerajaan Batak Tua (KTT); dan 2) Kerajaan Batak Muda (KTM).

KTT meliputi empat dinasti: 1) Dinasti Mangala Pulo; 2) Dinasti Toba Na Sae dan 3) Dinasti Batahan Pulo Morsa . Mangala Pulo adalah rumpun pertama Batak yang berpusat di Teluk Persia. Semangat pengembaraan zaman itu, membawa Dinasti Mangala Pulo bergerak kearah Timur lalu bermukim di India bagaian Selatan. Di sanalah mereka mendirikan dinasti berikutnya: Toba Nasae.

Saat India dan Asia Tengah mendapat serangan dari Bangsa Arya rumpun Indo German, Toba Nasae ikut terdesak. Karena tidak bersedia tunduk, orang-orang Toba Nasae pergi menyebrangi lautan dan tiba di Pulau Morsa. Di Pulau Morsa inilah dimulai dinasti baru : Batahan Pulo Morsa.

Batahan Pulo Morsa mengalami kejayaan pada masa era Sriwijaya. Saat itu Kerjaan Batak yang membentang dari Aceh sampai Sumatera Tengah terbagi atas beberapa kerajaan: Kerajaan Samudra Pasai, Kerajaan Haru, Kerjaan Panai dan lain-lain.

Kerajaan Haru punya armada laut besar. Kerajaan Haru dipimpin terakhir kali oleh Siraja Batak. Pada tahun 1023-1027 dan 1029, Kerajaan Haru diserang Rayendra Cola III dari India Selatan. Siraja Batak terdesak lalu memindahkan pusat kerajaan ke pedalaman Sumatera: Dolok Pusit Buhit. Perpindahan inilah yang memulai cikal bakal dinasti Batak berikutnya: Buhit Lingga. Oleh Gultom, dinasti ini dijadikan titik awal Kerajaan Batak Muda.

Bagi saya, hal yang menarik dari Vlekke, Bevly dan Gultom adalah kesamaan mereka dalam merujuk sejarah nenek moyang Indonesia. Mereka menemukan Cina sebagai salah satu pusat migrasi awal ke Nusantara. “Pusat dan titik tolak perpindahan bangsa-bangsa di dunia adalah Negeri Cina,” tulis Gultom.

Sampai titik ini, ada tiga kesimpulan yang saya tarik: Pertama, orang Indonesia asli adalah gabungan atau terdiri dari Ras Negrito dan Ras Mongoloid . Kedua, Ras Negrito berasal dari Afrika dan Ras Mongoloid yang diwakili Ras Melayu-Polenesia (Melayu Tua dan Melayu Muda) berasal dari Cina.  Tiga, Cina adalah salah satu titik awal keberangkatan nenek moyang Indonesia.

Dari tiga kesimpulan di atas, tentu saja tesis yang menyebut keturunan Tionghoa bukan Indonesia asli otomatis gugur. Karena ternyata nenek moyang orang Indonesia asli datang dari Cina.

Walau begitu penelusuran kita tentang pribumi belum tuntas. Karena apa yang Vlekke maupun duo Sarasin maksud sebagai Indonesia, saya yakini bukanlah sebuah nation-state (negara-bangsa). Karena saat Sarasin menulis bukunya, negara Indonesia belum terbentuk. Sehingga istilah Indonesia yang mereka pakai lebih tepat digunakan sebagai penanda etnografik dan geografik; ketimbang entitas politik.

Mari kita lacak sebentar, bagaimana perdebatan soal entitas politik Indonesia menjelang kemerdekaan.

Mencari Indonesia

Seorang pelacong Inggris, George Samuel Windsor Earl mengagas nama “Indonesia” di tahun 1850.  Earl menggunakan “Indonesia” – lebih tepatnya “Endu-nesians – untuk menamai cabang ras berkulit cokelat yang menghuni kepulauan Hindia. Tapi Earl segera membuang gagasan itu karena menganggap Malayunesias jauh lebih tepat sebagai nama etnografi.

Kolega Earl, James Logan dalam The Ethnology of Indian Archipelago; Embracing Enquiries into the Continental Relations of Indo-Pasific Islander (1850) menggunakan kembali kata “Indonesia”. Ia menggunakan istilah itu untuk merujuk sebuah wilayah (geografi) dan bukan etnografi. Logan bahkan membagi “Indonesia” menjadi empat kawasan geografis terpisah, membentang dari Sumatra sampai Formosa (Taiwan). Sampai tahun 1912, kata Indonesia lebih terkenal dikalangan peneliti sosial; baik sosilogi, antropologi, arkeologi maupun linguistic (bahasa).

Pada tahun-tahun itu, Hindia Belanda tengah “digonjang” kebangkitan kaum terjajah. Pada tahun 1908, berdiri sebuah organisasi bernama Budi Utomo (BU). BU sendiri bukanlah organisasi yang berselimut nasonalis. BU lebih tepat disebut sebagai organisasi eksklusif berwatak Jawa. Karena cita-cita BU adalah,”Memajukan kerja sama untuk pembangunan tanah dan rakyat Jawa dan Madura secara harmonis”.

Sifat eksklusif Jawa BU itu terwakili dalam tulisan R.M.S Soeriokoesoemo, Javaansch Nationalisme (1918). “Tetangga-tetangga kita,” kata nasionalis Jawa terkemuka, Soeriokoesoemo,”Harus mengurus sendiri perkembangan budaya mereka. Hindia bukan satu negara, bukan satu bangsa dengan budaya yang sama.” (R.E. Elson: 17).

Sikap berbeda ditawarkan oleh tiga serangkai: Douwes Dekker, Soerwadi Suryaningrat dan Tjipto Mangoenkoesoemo lewat Indische Partij/IP (1912). IP mendorong merdekanya sebuah koloni. Tahun 1913, Soerwadi mengecam perayaan 100 tahun kemerdekaan Belada dari Perancis. Ia menulis ejekan terkenal, Als ik eens Nederlander was (Andai Saya Seorang Belanda). “Andai saya seorang Belanda, maka sekiranya saya tak menyelenggarakan perayaan kemerdekaan di tanah yang penduduknya tak kita beri kemerdekaan…Berikan dulu kemerdekaan kepada bangsa terjajah itu, barulah kita merayakan kemerdekaan kita sendiri,” tulis Soerwadi. Hasilnya tiga serangkai dihukum dan dibuang ke Belanda.

Di Belanda, Soerwadi bergabung dalam Indische Vereeniging (IV); sebuah organisasi mahasiswa perantauan. Melalui jurnal bulanan, Hindia Potrea (HP), Soerwadi rajin menulis ide-ide tentang kemerdekaan. Lewat HP pula nama “Indonesia” diambil dari kelas Indologi di Univeritas Laiden, Belanda lalu digunakan pertama sekali sebagai cikal bakal sebuah negara. Di tahun 1917, HP diambil alih IVS (Indonesisch Verbond van Studeerenden), sejak itu gaung Indonesia sebagai negara merdeka semakin membahana.

Gagasan-gagasan Soerwadi mengadung dua pikiran penting zaman itu. Pertama, bahwa negara Indonesia yang merdeka secara politis dari Belanda merupakan perkembangan yang tidak terelakkan, yang pada saat itu hanya disadari oleh IVS yang membaca tanda-tanda zaman. Kedua, Indonesia yang akan muncul bakal didasarkan pada pertimbangan nasionalis-humanis, bukan etnis atau agama. (R.E Elson: 38)

Disinilah letak kehebatan gagasan IP. Lewat Soerwadi, IP mampu menawarkan gagasan melampui kesadaran zaman itu. Wajah Indonesia dibuat terang benderang. Ia (Indonesia) memiliki identitas yang jelas sebagai sebuah bangsa. “Berbeda dengan perkumpulan politik lain, yang hanya beranggotakan orang-orang Indonesia, IP mencoba memahami bahwa orang Hindia atau Indonesia sebagai tanah airnya, tanpa peduli apakah dia orang Indonesia totok, atau keturunan Tionghoa, Belanda, atau Eropa. Siapa pun warga negara Indonesia adalah orang Indonesia,” tulis Soerwadi dalam artikel  Van de Indonesische redactietafel (1918).

Perkembangan gerakan nasionalis rupanya mengusik Belanda. Atas nama hukum tata negara, Belanda menjalankan politik pecah belah (divide et empera) lewat  Indische Staatsregeling (IS) 1925. Melaui padal 163, Belanda sengaja memecah orang-orang di Indonesia menjadi 3 golongan (stratafikasi): Pertama, golongan Eropa, kedua, golongan Timur Asing (Tionghoa dan bukan Tionghoa) dan, ketiga, golongan pribumi (Kristen dan Islam).

Tujuan pengolongan ini agar orang-orang di Indonesia semakin terpisah baik jarak maupun status; sehingga tidak mudah bersatu. Usaha Belanda itu makin terlihat jelas dari pemberlakuan jenis hukum (Staatsblad) yang berbeda.

Perbedaan itu diamanatkan pada IS pasal 131: 1) Staatsblad No. 1849-25 untuk golongan Eropa; 2) Staatsblad No. 1917-130 untuk golongan Timur Asing Tionghoa; 3) Staatsblad No. 1920-751,  untuk golongan pribumi  beragama Islam; dan 4) Staatsblad No. 133-75 untuk golongan pribumi beragama Kristen.

Stratafikasi Belanda berhasil memecah belah orang-orang Indonesia. Perpecahan itu tampak jelas pada tahun-tahun menjelang kemerdekaan. Wilson merekam perpecahan itu dalam Orang dan Partai Nazi di Indonesia; Kaum Pergerakan Menyambut Fasisme (2008). Wilson mencatat setidaknya ada tiga arus besar pergerakan masa itu: fasisme, nasionalisme dan sosialisme.

Gerakan fasisme terilhami oleh kemenangan Partai Nazi di Jerman. Pada Juli 1933, DR. Notonindito mendirikan Partai Fasict Indonesia (PFI) di Bandung. Berbeda dengan konsep fasisme di Eropa yang idologis, PFI lebih cenderung bersifat kebudayaan. Lebih tepatnya DR. Notonindito ingin mengembalikan kejayaan kerajaan Jawa.

Semangat itu tersurat jelas dari dua tujuan PFI yang dirumuskan pada tahun 1914: Pertama, mendapatkan kemerdekaan Jawa dan nanti diangkat seorang raja yang tunduk kepada grondwet dan raja ini merupakan turunan dari Panembahan Senopati. Kedua, akan membangun sesuatu Statenbond (Perserikatan negeri-negeri) dari kerajaan-kerajaan di Indonesia yang merdeka, dimana terhitung juga tanah-tanah raja (vorstendommen) (Wilson: 120).

Menurut saya, kemunculan PFI dengan semangat Jawaismenya tidak lepas dari stratafikasi yang dibuat Belanda. Hak-hak istimewa yang didapatkan kaum aristokrat, elite dan priyayi selama pemerintahan Belanda, terancam hilang bila kolonial bubar. Para aristokrat tentu tidak mau. Mengantisipasi itu dibutuhkan sebuah wadah yang mampu menampung kepentingan mereka. Apalagi Pemerintahan model Jawa terlanjur dipopulerkan Belanda keseantero Nusantara.

Semangat yang hamper sama dengan PFI diadopsi Parindra yang berwatak Nasionalis. Parindra yakin dengan ramalayan Jaya Baya tentang pembebasan yang dilakukan saudara jauh. Jaya Baya mengithiarkan kebangkitan kerajaan Jawan dengan kedatangan orang berkulit kuning dan membebaskan saudara serumpunnya. Orang berkulit kuning itu diyakini sebagai Jepang.

Polemik seperti ini juga memicu debat serius tentang “Indonesia Asli”. Parindra yang percaya kepada ramalan Jaya Baya mendefenisikan “Indonesia Asli”: selain Cina, Jepang, Indo totok dan Arab. Debat panjang ini mendorong Amir Sjarifuddin mengelontorkan konsep “Kewarganegaraan Indonesia”. Amir tidak mau menggunakan istilah pribumi yang merujuk stratafikasi sosial bentukan Belanda. Lewat Kongres II Gerindo tahun 1939, Amir menawarkan konsep warga negara yang merujuk atas dasar tempat kediaman, bukan darah, bukan ras dan bukan pula pembalik kata ”pribumi”.

Sampai disini saya menyimpulkan: entitas Politik Indonesia sebagai sebuah negara-bangsa (nation-state) telah melalui debat panjang. Bapak bangsa (founding father) telah menggagas Indonesia sebagai nation-state yang tidak dibentuk atas ukuran etnis atau agama. Ia (nation-state) itu dibangun di atas nasionalisme-humanis. Bahkan founding father dengan tegas menyebut bahwa semua yang ada di Indonesia adalah orang Indonesia. Tanpa peduli apakah dia orang Indonesia totok, atau keturunan Tionghoa, Belanda, atau Eropa.

Jika founding fathers mampu berpikir melampui zamannya. Mengapa pula kita yang hidup di abad 21 berlaku sebaliknya. Berpikir mundur dengan masih memperdebatkan mana yang pribumi dan mana bukan pribumi. Ironisnya, istilah yang dipersoalkan itu, secara konsep dan sejarah ternyata keliru. Malang bukan! ***

Kepustakaan:

  • Bernard H.H. Vlekke, Nusantara; Sejarah Indonesia, Freedom Institute dan KPG (Kepustakaan Populer Gramedia), Jakarta, 2008.
  • DR.Beni Bevly,  Meniti Masa Depan Yang Damai, http://www.overseasthinktankforindonesia.com/?s=Meniti+Masa+Depan+Yang+Damai
  • Drs. DJ. Gultom Rajamarpodang, Dalihan Na Tolu; Nilai Budaya Suku Batak, CV. Armada, Medan, 1992.
  • R. E. Elson, The Idea of Indonesia; Sejarah Pemikiran dan Gagasan,  Serambi, Jakarta, 2009.
  • William Marsden, Sejarah Sumatra, Komunitas Bambu, Jakarta, 2008.
  • Wilson, Orang dan Partai Nazi di Indonesia; Kaum Pergerakan Menyambut Fasisme, Komunitas Bambu, Jakarta, 2008.
  • W.P. Groeneveldt, Nusantara dalam Catatan Tionghoa, Komunitas Bambu, Jakarta, 2009.

3 thoughts on “Indonesia Sekali Lagi

  1. ngeri dengan berbagai macam kejadian bencana alam di indonesia, Entah sampai kapan bencana yang terjadi secara beruntun di negeri ini bisa berakhir. Semoga Allah SWT segera mengembalikan keadaan tersebut menjadi keadaan yang lebih baik

    salam,
    Bolehngeblog

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s