(Bukan) Pidato Kempuh

PIDATO Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) (Rabu, 1/9) di jam ganjil soal sengketa Indonesia- Malaysia terbetik tak garang. Walau dilansir dari pusat komando angkatan perang, tapi mantan jenderal bintang empat itu tak menyebut langgam tempur. Presiden punguh berdiplomasi demi mendesak hormat dari negeri tetangga.

Dua puluh menit SBY berperi soal ulah Malaysia. Pelantun Kuyakin Sampai Di sana itu, punya tiga cara mengelih negeri jiran. Ia membuka dalih merujuk asal usul nenek moyang. SBY tak ragu menyebut Malaysia sebagai negeri serumpun. Persaudaraan dua bangsa nyaris setua candi Borobudur. Pak Beye berkenan mengurus kerabat lawas itu.

SBY betul-betul doktor ekonomi. Ia tidak luput menyertakan rimbunan angka-angka dalam syarahnya. Ia merapal dua juta lebih Tenaga Kerja Indonesia (TKI) mencari makan di negeri jiran. Lebih dari 13.000 pelajar dan mahasiswa Indonesia mencari ilmu di sana. Sekitar 543 juta USD uang Indonesia tertanam di Malaysia. Sampai tahun 2009 angka jual beli antar kedua negara bernilai 11,4 Milyar USD.

Kata Pak Beye, Malaysia juga punya investasi gede di Indonesia. Ada 285 proyek ekonomi sedang berjalan. Lebih dari 1,2 milyar USD uang negeri tetangga berputar di sini. Setiap tahun orang Malaysia ramai-ramai melancong. Dari total 6,3 juta turis di tahun 2009, 1.18 juta adalah orang Malaysia. Selain itu ada 6000 pelajar Malaysia yang berguru di tanah air.

SBY bukan tanpa maksud mencecah angka-angka itu. Angka-angka itu pisau bermata ganda. Di sisi Indonesia, SBY yang pro growth pasti tidak rela jika prediksi pertumbuhan ekonomi 2010, tergelincir gara-gara investasi menguap. Kalau pertumbuhan tersumbat, SBY bisa-bisa dipanggil DPR. Jangan sampai itu terjadi, karena citra SBY bisa tergores. Begitu pula dengan Malaysia, tentu tak mau pundi negara tergerus lantaran modal di Indonesia tidak berlaba. Begitu pesan SBY yang saya tangkap.

SBY membawa ASEAN sebagai cara ketiga melihat Malaysia. Sebagai pendiri ASEAN, Indonesia dan Malaysia adalah pilar. Negara-negara se kawasan menaruh harapan di pundak kedua negara. Sebagai pilar, tingkah laku Indonesia dan Malaysia digugu banyak negara. Demi menjaga nama besar, SBY tidak mau pongah bertindak.

Soal pelucutan tiga pegawai KKP (Kementerian Kelautan dan Perikanan) oleh Polisi Malaysia, SBY mengaku ligat bertindak. Nota diplomatik Kementerian Luar Negeri (Kemlu) dilayangkan ke Malaysia. Duta Besar Malaysia, Dato Syed Manshe Afdzaruddin Syed Hassan sudah pula diminta menghadap. SBY melengkapi reaksi pemerintah lewat surat protes berlogo garuda. Surat itu dikirim kepada Perdana Menteri Malaysia, Datuk Seri Najib Razak.

SBY menimpali issue barter antar pegawai KKP dengan maling ikan asal Malaysia. Nelayan Malaysia tidak dibarter tetapi dipulangkan ke negara asal. Kata SBY kebijakan itu lazim terjadi di kawasan ASEAN. Nelayan pencuri ikan, setelah tertangkap dan diperiksa, setelah itu dideportasi.

Klimaks pidato SBY tiba pada sikap resmi pemerintah Indonesia. SBY menunjuk tegas masalah Indonesia- Malaysia adalah soal perbatasan. Perundingan yang belum kelar antar kedua negara menjadi biang sengketa. SBY memerintahkan Kemlu mempercepat perudingan. Jalan tunggal yang dipilih hanya diplomasi; bukan perang.

SBY benar soal itu. Perang memang bukan cara pas menghadapi Malaysia. Perang seperi kata Sir Henry Maine adalah praktik kuno.Tapi SBY tidak boleh lupa, pergesekan perbatasan dengan Malaysia sudah tua umurnya. Sejak Malaysia lahir konflik tak jua usai.

Nukilan SBY soal TKI bikin hati miris. Juru pikir SBY barang kali silap memberi saran. Dua juta TKI di Malaysia malah buat SBY bergidik. Andai saja si juru pikir banyak jam terbang, ia pasti membisikan wasiat berbeda; angka dua juta itu bisa jadi kekuatan.

Memang betul TKI kita di sana mayoritas buruh kasar dan pembantu, tapi merekalah yang menggerakkan roda ekonomi Malaysa. Kalau mereka tidak ada, Malaysa bisa kelimpungan. Tidak ada yang menggali parit, mengayak pasir dan semen, memecah batu, manabur pupuk, mencuci pakaian, memanen sawit atau menyeduh teh hangat buat sang Datok saat bersantai.

SBY seharusnya banyak akal dan berani. SBY tidak usah risau kalau TKI kita diusir. SBY tinggal menyambut mereka di pelabuhan atau bandara. Mereka bisa membantu SBY membangun Indonesia. Soal lapangan kerja SBY hanya butuh “tukar guling” dengan Malaysia. Asset Malaysia bisa dinasionalisasi.

Di sektor perkebunan sawit misalnya. Ada 162 perusahan dari Malaysia menggarap sektor ini. Malaysia menguasai 2,1 juta hektar lahan sawit. Lebih dari 5OO ribu hektar berada di Kalimatan dan Sumatera. Bahkan 70 persen perkebunan di Provinsi Kalimantan Barat dikelola Malaysia. Dari perkebunan sawit saja, Indonesia bisa menyerap seperempat TKI dari Malaysia. Toh di sana, mereka juga mengurus pekerjaan yang sama.

SBY jangan mau repot menyerang Malaysia secara militer. Indonesia negara merdeka dan demokratis, bukan negeri penjajah. SBY cuma perlu mengirim tentara dari kota ke perbatasan. Korem dan Koramil harusnya dimutasi ke sana, tidak usah lagi ada di perkotaan. Tugas mereka memastikan orang asing tidak seenak hati memasuki Indonesia. Soal keamanan kota biar polisi yang urus.

SBY juga harus memerintahkan pak menteri, gubernur dan bupati gegas bekerja. Kota-kota perbatasan dibuat terang benderang. Sekolah dan sarana kesehatan berdiri tegak. Pelayanan publik musti bisa buat warga berdecak kagum. Acara televisi, radio dan koran-koran harus rajin menyapa saudara-saudara di tapal batas. Selama saudara di ujung negeri merasa merah putih, selama itu pula kedaulatan negara tetap terjamin.

SBY sudah memilih jalan diplomasi. Kitapun tahu SBY telah menugasi pegawai Pejambon berkerja cepat. Tapi ada soal lagi dengan dengan Malaysia ? SBY jelas tidak punya kuasa menyuruh Malaysia. Malaysia itu negara berdaulat yang tidak bisa didikte siapapun itu. Itulah yang buat saya bertanya-tanya: kalau Malaysia tidak mau cepat-cepat berunding, Pak Beye bisa bikin apa?

Saya menunggu wujud pidato SBY. Saya meniatkan orasi SBY yang kadung terucap itu, bukan pidato kempuh. Karena kemarin saya melihat ada lalat singgah di bahu SBY sebelum pidato selesai. Kita tahu, lalat binatang pengendus bau. Ia bisa membantu kita menemukan aroma tak sedap. Tapi saya tidak mau berburuk sangka, saya kuat berharap itu lalat cuma kebetulan ada di bahu Pak Beye. ***

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s