Reburial: Dari Mitos Menuju Status Sosial *

DISKUSI Novel Sordam kita (Rabu,30/5), menyisakan pertanyaan: Mengapa orang Batak Toba melakukan penggalian tulang belulang (mangokkal holi-holi)?

Saya berusaha melacak jawaban praktis dari sumber-sumber yang bisa diakses. Mengingat sejarah penaklukan tanah Batak oleh Belanda tergolong belakangan (1820-1910), sehingga pengetahuan Barat tentang Batak masih tergolong minim. Belanda sendiri baru serius mendalami budaya Batak secara science sekitar 1908 lewat pendirian Bataksch Instituut di Lieden, Belanda. Saat itu Belanda tengah mempromosikan nasionalisme Batak sebagai lawan dari nasionalisme republik yang tengah tumbuh. Belanda mempromosikan berdirinya Batakstraad, sebagai perwakilan orang Batak di Volkstraad. Sekitar tahun 1940an, gelombang revolusi yang menyapu tanah Tapanuli, membuat study tentang Batak nyaris tidak berkembang. Tidak banyak literatur dalam bahasa asing yang bisa saya akses. Mengingat literatur  berbahasa asing itu, hanya tersedia di perpustakaan yang tersebar di Eropa.

Karena itu saya memilih pendekatan sejarah, untuk menyajikan pemahaman praktik reburial. Dari bahan-bahan yang saya baca, setidaknya ada empat tujuan, orang Batak Toba melakukal ritual mangokkal holi-holi. Pertama, menghormati orang tua (nenek moyang). Kedua, mengangkat derajat dan martabat marga (keluarga).  Ketiga, menyatukan marga (keluarga). Dan keempat, sebagai jalan untuk mendapatkan berkat kesejahteraan. Dalam pelacakan, keempat tujuan itu mengalami perubahan pemahaman spiritual pada setiap periode. Agar lebih mudah memahaminya, saya membagi periode itu menjadi tiga: Pra Kolonial (sebelum 1861), Kolonial (1861 -1940) dan Pasca Kolonial (1940-sekarang) 

Pra Kolonial (sebelum 1861)

Tidak bisa disangkal kehidupan orang Batak Toba awal, sangat dipengaruhi praktik Hindu.[1] Praktik agama yang berakar dari India ini, membuat kehidupan orang Batak Toba dekat dengan mitos-mitos. Salah satu yang berpengaruh adalah mitos Siboru Deak Parujar.[2] Mitos ini merupakan sejarah penciptaan bumi versi orang Batak Toba. Mitologi ini mengembangkan dunia (banua) Batak Toba menjadi tiga bagian: Banua Ginjang, Banua Tonga dan Banua Toru.[3]

Di dalam mitos itu, disebut perkawinan Siboru Deak Parujar dengan Raja Odap-Odap menghasilkan sepasang anak. Anak laki-laki diberi nama Siraja Ihat Manisia dan si perempuan digelari Siboru Ihat Manisia. Setelah dewasa, keduanya dinikahkan. Untuk memberkati pernikahan itu, Siboru Deak Parujar memohon agar Mulajadi Na Bolon bersedia turun ke banua tonga. Permintaan itu disetujui. Bersama Debata Batara Guru, Mulajadi Na Bolon datang ke banua tonga.

Disaat pernikahan itu, Mulajadi Na Bolon memberikan nasehat Hata Dua, yang menyangkut apa yang boleh dilakukan dan yang tidak boleh dilakukan. Pada saat kembali ke banua ginjang bersama Debata Batara Guru, Mulajadi Na Bolon membawa serta Siboru Deak Parujar dan Siraja Odap-Odap ke banua ginjang. Pada saat itu Mulajadi Na Bolon berkata :[4]

  1. Agar kamu sekalian penghuni banua tonga dapat bertemu dengan penghuni banua ginjang, haruslah dengan sesaji sebagai alas tangan. Sesaji itu haruslah bersih dan suci, sekalian dengan turun-temurunmu.
  2. Tidak boleh makan daging babi, daging anjing, darah serta bangkai.

Menurut saya, mitos di atas diterjemahkan orang Batak Toba dalam masa pra kolonial kedalam tiga cara berpikir. Pertama, banua ginjang menjadi penting bagi orang Batak Toba sebagai tujuan akhir setelah kehidupan. Kedua, orang Batak Toba percaya bahwa roh orang mati punya kekuatan untuk tetap mempengaruhi kehidupan keturunannya. Ketiga, orang Batak Toba merasa berkewajiban menghormati/menjalankan ritual sesuai perintah nenek moyang agar tetap saling terhubung (terkoneksi) dan diberkati.

Tiga cara berpikir di atas dipraktikkan secara jelas dalam ritual menguburkan kembali (reburial). Bagi orang Batak Toba, roh dan jiwa terbagi atas tiga bagian: tondi, sahala, dan begu. Tondi merupakan kekuatan dari penggerak tubuh. Tondi ini didapat dari Mulajadi Nabolon, baik bagi orang yang hidup dan yang sudah mati. Sahala adalah kekuatan tondi yakni kekuatan untuk mempunyai banyak keturunan, kepintaran, pengetahuan atau talenta. Orang Batak Toba percaya bahwa orang yang hidup dan orang yang sudah mati dapat mengalihkan sahalanya kepada orang lain. Begu adalah arwah atau roh orang meninggal yang mendiami suatu tempat, begu dibagi dua yaitu, begu yang jahat dan begu yang baik.

Menurut Shigehiro Ikegami (2007), pemahaman begu bagi orang Batak Toba membawa dua pengaruh bagi orang Batak Toba itu sendiri.[5] “If the descendant entertain deep veneration for their ancestor and are faithful to make proper offering, the begu of ancestors bring earthly blessing and protection against misfortune which result in such benefit as good harvest and prosperity of descendants…”  Tapi jika begu diabaikan, maka keturunan akan mendapat kesialan. “… to may cause such calamity and misfortune as bad harvest, death of children and illness in man or cattle…”

Orang Batak Toba percaya cara terbaik menyenangkan roh nenek moyang adalah dengan cara mengangkat martabatnya: dari begu menjadi sumangot.[6] Berdasarkan kepercayaan itu, sumangot diyakini bisa membawa berkat yang melimpah dan perlindungan kepada keturunan yang memuliakan nenek moyang. Ritual mengangkat derajat dari begu menjadi sumangot  itu[7], dilakukan dengan reburial.

Reburial sangat penting bagi orang Batak Toba pra kolonial. Mereka percaya bahwa tulang-tulang yang berserakan di tanah, tidak dapat berkomunikasi dengan roh di banua ginjang. Sehingga harus dipindahkan dan dikuburkan kembali di tempat yang lain. Jabu-jabu (peti mati batu-ed) yang dibuat menjadi peti jenasah, ditujukan untuk menyenangkan roh yang meninggal, agar (orang yang meninggal itu – ed) dapat berkomunikasi dengan Tuhan Yang Maha Esa.[8]

Secara tradisional, orang Batak Toba mengenal dua jenis kuburan: tambak na timbo dan batu napir. Tambak na timbo merupakan kuburan dari tanah yang dibuat seperti bukit. Tinggi tambak na tibo selalu kelipatan ganjil: tiga, lima atau tujuh kaki. Dan selalu ditanami pohon beringin ataupun hariara di atasnya. Sedangkan batu napir adalah kuburan batu. Kuburan ini  lebih tepat disebut peti mati dari batu yang dipahat menyerupai rumah adat.

Dalam tradisi kematian orang Batak Toba, orang yang mati harus ditanam (dikubur) di dalam tanah terlebih dahulu. Atau dalam bahasa lain, orang yang baru mati harus ditanam di tambak na timbo. Beberapa tahun kemudian, tubuh orang mati tersebut tinggal kerangka karena proses pembusukan. Setelah itu baru proses reburial bisa dilakukan.

Proses reburial dimulai dengan menggali kuburan. Pratik menggali tulang belulang  disebut manggokkal holi-holi. Setelah tulang belulang diangkat dari kuburan, dibersihkan lalu disusun kedalam peti mati kayu, maka tindakan selanjutnya adalah ritual panangkokkon saring-saring.  Ikegami menulis pratik ini dalam bahasa yang lebih lugas,” Transfer of the exhumed bones to the reburial tombs is called panangkokhon saring-saring. The words panangkokhon and saring-saring originally mean “raising” and “skull” respectively. Hutagaol [1989:42] interprets that panangkokhon is conducted in the hope that the status of the ancestral spirit might be elevated to sumangot, and the standard of living of the entire descendants might be upgraded as well.” [9] 

Ritual reburial ini sangat mahal biayanya. Pada masa pra kolonial, ritual ini mengharuskan ratusan orang bekerja berhari-hari, atau bahkan berminggu-minggu, untuk memindahkan batu yang besar dari gunung atau tepi sungai, ke desa tempat penguburan. Batu besar itu merupakan bahan baku bagi si ahli pahat untuk membuat peti batu.

Proses kerja ratusan orang ini mengharuskan tuan rumah reburial, menyediakan makanan yang banyak dan menyembelih ternak terus-terus. Biasanya hewan ternak yang disembelih adalah kerbau. Selain itu, ritual reburial (baik mangokkal holi-holi dan panangkokkon saring-saring) mengharuskan pesta berhari-hari (ada yang bahkan tiga hari tiga malam berturut-turut), memperdengarkan alat music tradisional, menari dan memberi makan beratus-ratus orang yang mengikuti ritual

Pada masa pra kolonial, hanya mereka yang kaya raya dan orang berpengaruh yang bisa melakukan reburial. Bagi keturunannya, keberhasilan melaksanakan reburial  sekaligus menyakinkan (pengumuman secara tidak langsung) kepada orang banyak, bahwa orang yang mati dan keturunannya itu, telah berhasil mencapai 3 H : Hamoraon, Hasangapon dan Hagabean.

Masa Kolonial (1861 – 1940)

Kristeniasi orang Batak Toba tidak bisa dilepaskan dari politik kolonial. Tanah Batak menjadi penting bagi kolonial, bukan karena sumber daya alamnya. Terletak diantara Aceh dan Padang (Minangkabau) yang beragama Islam, menjadikan tanah Batak sebagai titik petaruhan bagi kolonial.

Sir Stamford Raffles, wakil Inggris di Pulau Jawa, membayangkan persatuan Islam Aceh dan Islam Minangkabau sebagai ancaman bagi Inggris. Sejak 1811 Raffles berusaha keras memisahkan kedua suku bangsa itu. Cara yang ditempuh Raffles ialah memberikan izin bahkan mendorong para missionaris Kristen mengembangkan agama (baru-red) ke daerah Tapanuli, daerahnya orang Batak.[10]

Pada tahun 1820 gagasan Raffles dijalankan. Baptist Mission Society (BMS) dari Inggris mengirimkan tiga missionaris:  Richard Burton, Natahaniel Ward[11] dan Evans Brookers. Setelah belajar bahasa dan tradisi Batak, pada tahun 1824 ketiga misionaris memulai perjalanan ke pedalaman tanah Batak. Tapi raja-raja Batak menolak keingginan para misionaris. Mereka menolak menjadi Kristen.

Traktat London 1824 mengubah drastis kisah penginjilan BMS. Inggris menukar guling Nusantara kepada Belanda. Belanda menyerahkan  Malaka dan Singapura kepada Inggris. Setelah Nusantara di serahkan kepada Belanda, Misi BMS diusir. Pengusiran ini disebabkan keterlibatan Burton dan Brookers pada perang Paderi. Kedua misionaris itu, menjadi penerjemah dalam perundingan dengan Tuanku Lelo (pemimpin pasukan Paderi). BMS gagal di tanah Batak.

Di tahun 1834 utusan Amerika dan Boston meneruskan misi. Mereka mengirim dua misionaris bernama Munson dan Henry Lyman. Keduanya bernasid naas. Munson dan Henry Lyman dibantai Raja Panggalamei di Singkak, Lobupining. Menurut hasil penelitian Dr.A. Schreiber, dikatakan bahwa kedua misionaris tersebut dimakan. Menurut dugaan para raja di wilayah itu, bahwa terjadi(nya) Perang Paderi adalah (karena) anjuran misionaris Burton dan Ward. Anjuran itu disebabkan orang Batak menolak menjadi Kristen. Akibat penderitaan yang disebabkan Perang Paderi, rakyat sangat benci kepada orang Barat (orang berkulit putih).[12]

Misi Rheinische Mission Gesselchaft (RMG) dari Jerman hadir di tanah Batak pada 17 Agustus 1861. Setelah gagal di Kalimantan, RMG memindahkan misinya ke tanah Batak. Misi ini mencapai titik keberhasilannya di tangan misionaris legendaris bernama Igwer Ludwing Nommensen.

Cara RMG melakukan misi berdampak pada tradisi Batak. Misionaris RMG melihat tradisi Batak bertentangan. Bagi para penginjil Barat, menjadi orang Kristen berarti meninggalkan religi para nenek moyang. Orang Batak harus terpisah dari budaya tanah leluhur mereka. RMG sangat yakin bahwa segala sesuatu yang dimiliki di Barat merupakan yang terbaik; jauh lebih baik dari yang dimiliki masyarakat Batak.[13]

Misionaris kemudian mempromosikan Culturkampf (perang budaya). Culturkampf merupakan usaha transformasi budaya lokal kepada peradapan Eropa. Masyarakat primitif (seperti Batak) dianggap tidak berbudaya (Uncultur), sehingga  budaya yang sudah ada harus dihilangkan.

Kekalahan Sisingamaraja XII dalam perang Toba, berimbas pada pelarangan ritual Batak Toba.[14] Belanda mengubah struktur politik Batak Toba: huta[15], horja[16] dan bius[17] dengan struktur baru.[18] Belanda menciptakan system pemerintahan baru yang secara administrasi berada dibawah kontrol Belanda. Ada semacam pembagian tugas antara Belanda dan RMG. Belanda mengurus pemerintahan dan keamanan, sedangkan misi RMG mengurus wilayah religi dan pendidikan.

Sementara dari sisi RMG, terjadi perubahan strategi dalam menjalan misi Kristen. RMG awalnya menggunakan  pendekatan pertobatan individu (Einzelbekehrung), dimana target misi adalah pertobatan secara perorangan. Kemudian strategi ini berubah  menjadi: berupaya menjadikan seluruh bangsa menjadi jemaat Kristen (Volkschrisianizierung).[19] RMG ingin menjadikan bangsa Batak Toba menjadi Kristen secara utuh dan meninggalkan praktik religi nenek moyang.

Namun dalam menjalankan Volkschrisianizierung, RMG menyadari kekuatan ritual adat Batak Toba yang nyaris tidak bisa dipisahkan dari orang Batak. RMG kemudian memilah adat Batak Toba menjadi tiga bagian: positif, netral dan negatif. Unsur-unsur yang positif tetap digunakan mendukung tujuan misi. Contohnya adalah penggunaan bahasa Batak. Unsur-unsur yang netral juga digunakan, sambil berhati-hati terhadap pencampuran unsur yang negatif. Contoh unsur netral adalah sumbangan untuk ritual adat (tumpak). Unsur-unsur negatif, yakni yang dianggap erat berhubungan dengan kepercayaan lama (heidentum), dengan tegas ditolak; seluruh pekerjaan dan warga jemaat, termasuk murid-murid sekolah, dilarang mengikuti, misalnya, penghormatan kepada (arwah) nenek moyang.[20] Termasuk praktik margondang, tortor dan mangokkal holi-holi dilarang.

”…sebagaian besar budaya Batak dianggap tidak penting dan malah perlu dimusnahkan. Penginjil Nommensen misalnya melarang jemaatnya bermain musik (margondang), menari (manortor), bahkan sistem kekerabatan orang Batak yang dikenal sebagai dalihan na tolu ingin dihilangkan dengan mengizinkan perkawinan antar orang sesama marga (BRGM 1880:21). Setelah mendapatkan perlawanan dari orang Batak, para penginjil bersedia berkompromi, tetapi godang dan tortor Batak tetap dilarang dan diganti musik tiup asal Jerman.”[21]

RMG juga merekrut tokoh-tokoh adat menjadi petugas gereja. Mereka diberikan peranan cukup penting di dalam gereja. Diperkenalkan dengan kebudayaan baru dan diberikan pakain baru seperti jas. Pelibatan para tokoh-tokoh adat ini dimaksukkan agar Volkschrisianizierung berlangsung dengan sempurna.

Di bidang pendidikan RMG memperkenalkan pendidikan modern kepada Orang Batak Toba. Menurut Jan Sihar Aritonang (2000)[22], orang Batak Toba mengalami kemajuan yang cukup pesat setelah mendapatkan pendidikan. Kemajuan itu terlihat di bidang spiritual, ekonomi, politik, kebudayaan dan pendidikan. Orang Batak Toba berlahan menjadi rasional mengikuti tradisi berpikir Barat.[23]RMG/Batakmission was very convinced that everything possessed in the West was the best; it was much better than whatever was possessed by Batak society. It was just this conviction which forms the basis for each of its motives, goals, attitudes and policies, including their embodiment in the field of education.”[24]

Salah satu dampak dari pendidikan bagi orang Batak, adalah munculnya dorongan kuat untuk melakukan migrasi.[25] Semangat migrasi ini, sempat menjadi masalah bagi RMG. Usaha agar orang Batak menjadi Volkschrisianizierung, bisa terancam apabila orang Batak Toba melakukan interaksi dengan Melayu-Islam. Migrasi akan membuat orang Batak Toba meninggalkan tanah Batak (Tapanuli), dan berlahan meninggalkan agamanya karena harus menyesuikan diri dengan budaya pesisir yang didominasi melayu.[26]

Usaha RMG “melindungi” Volkschrisianizierung Batak Toba dari  unsur Islam, dijalankan dengan memberlakukan bahasa Batak sebagai bahasa pengantar (bahasa resmi) di bidang pendidikan. Sekolah-sekolah RMG tidak mengizinkan penggunaan bahasa melayu dan aksara arab. Anak-anak Kristen bahkan dilarang masuk ke sekolah pemerintah kolonial dan murid-murid sekolah misi dicegah untuk melanjutkan pendidikan di sekolah-sekolah tersebut. [27]

Pilihan bahasa ini menjadi sumber konflik terpendam antara RMG dan Belanda. Belanda mendorong penggunaan bahasa Melayu sebagai bahasa penghubung Nusantara. Tetapi RMG tetap mempertahankan bahasa Batak, sehingga orang-orang Batak terisolir di pegunungan.

Pemaksaan bahasa Batak sebagai bahasa tunggal pendidikan mendapat perlawanan dari orang Batak Toba. Orang Batak Toba merasa kehilangan hak dan kesempatan menjadi pegawai kolonial Belanda karena tidak bisa berbahasa Melayu dan Belanda. Menjadi pegawai kolonial atau perusahan-perusahaan asing saat itu menjadi kebanggaan marga.[28] RMG akhirnya bersedia mengalah, dan setuju menjadikan bahasa Melayu sebagai bahasa pengantar kedua setelah bahasa Batak.

Akhirnya migrasi[29]orang Batak Toba ke Sumatera Timur,  Medan dan Jakarta[30] tidak lagi terbendung. Secara berlahan orang Batak Toba menguasai daerah migrasi. Keberanian orang Batak Toba mengambil pekerjaan jenis 3D (dirty, difficult dan dangerous) membuat orang Batak Toba disegani sekaligus ditakuti.

Diakhir abad ke 19, sejumlah keberhasilan Belanda dan RMG mengubah struktur dan kebudayaan Batak Toba telah memunculkan keyakinan bahwa tanah Batak telah menjadi Kristen seutuhnya. Para missionaris (dianggap-ed) berhasil menghapus tradisi penyembahan nenek moyang pada orang Batak.[31] Bahkan ketika Edward Bruner melaksanakan penelitian di tahun 1957, tentang reburial, Ia menyakini bahwa tradisi itu akan runtuh.[32] Walau pemakaman kembali (reburial) masih mempunyai peranan dalam mengikat masyarakat Batak secara bersama-sama tetapi ada ‘suatu gangguan budaya, bahkan disorganisasi. Saya kira system sosial Toba, tidak dapat bertahan ke generasi lainnya’ (Bruner 1983:17).[33]

Pasca Kolonial  (1940 – sekarang)

            Tahun 1920an menjadi titik penting bagi orang Batak Toba. Seiring pertambahan migran dari tanah Batak ke Medan, jumlah Orang Batak Toba mulai signifikan. Pada akhir 1920-an, komunitas Batak Kristen di Medan sudah besar sehingga berani menegaskan identitas mereka sendiri. Anggota gereja berkembang sampai lebih seribu orang, lalu gedung-gedung gereja didirikan, ritus adat Batak dilaksanakan. Orang Batak juga sudah berani membentuk perkumpulan-perkumpulan sendiri.[34]

Dari sudut pandang kolonial, terjadi perubahan perspektif dalam melihat Batak Toba. Belanda mulai memisahkan etnisitas Batak dari Melayu. Usaha ini dimulai tahun 1888, dengan ditempatnya kontrolir di dusun untuk mengurusin “Batak”. Salah satu tujuannya yang diakui adalah membela kepentingan orang Batak berhadapan dengan Melayu. Untuk ikut memakmurkan dan mendalami pengetahuan tentang orang Batak, 20 tahun kemudian di Leiden didirikan Batakcsh Instituut dengan cabang lokalnya, Bataksche Vereeningin, yang mengirimkan anggota-anggotanya berkeliling kepedalaman guna mencari sebuah budaya materi dan tradisi yang khas. Sebuah adat tertulis, disusun oleh seorang kontrolir Belanda dan diberlakukan tahun 1909.[35]

Sebuah daftar silsilah besar disusun yang mengubungkan marga Toba dan sebagian besar marga Angkola dan Mandailing satu sama lain dan masing-masing menjajaki ke belakang sampai pada cabang-cabang nenek moyang marga sampai pada sumber terakhir si Raja Batak. Daftar silsilah tersebut dipublikasikan di tanah Batak pada sebuah buku tahun 1926 oleh seorang jaksa Batak, Waldemar Hutagalung – Poestaha Taringot Tarombo Ni Halak Batak.[36]

Sedangkan disisi misi, RMG mengalami perlawanan intelektual dari tokoh-tokoh muda Batak. Kehadiran sosok seperti Tuan Manullang[37] yang menggagas kemandirian gereja Batak lewat Hatopan Kristen Batak (HKB). Intelektual seperti Tuan Manullang membangkitkan semangat nasionalisme dikalangan muda Batak. Gerakan nasionalisme republik yang menjalar di Pulau Jawa, telah mengilhami orang-orang Batak untuk menggali identitas marganya. Identitas yang oleh sebagaian besar pejabat Belanda dianggap telah punah diakhir abad ke 19.

Perjuangan HKB saat itu tergolong maju karena menggunakan media massa. Pada tahun 1919, Tuan Mallunang menerbitikan koran bernama Soeara Batak di Balige. Soeara Batak menjadi corong HKB yang secara aktif menyiarkan tulisan yang menggali tradisi Batak. Meskipun berambisi menjadi pelopor lahirnya sebuah Gereja Kristen “Batak” asli yang terpisah dari misi Jerman, HKB tetap merujuk kepada unsur-unsur kebudayaan asli yang bukan Kristen. Contohnya adalah artikel dalam bahasa Toba dengan judul dalam bahasa Belanda “Heilige Koning Singa Maharadja. Radja Batak” (Raja Suci Singa Maharaja. Raja Batak).[38]

Selain pers, orang Batak Toba juga menggunakan sarana teater lewat Opera Batak untuk mempromosikan tradisi Batak. Pada tahun 1925, Tilhang Oberlin Gutom, seorang pemusik tradisional dari Samosir menggagas trio yang lekas terkenal di Tarutung. Ia sering diminta untuk melakukan pertunjukan pada acara bukan Kristen, baik acara keluarga maupun huta, dan juga tampil atas permintaan parmalim. Tilhang Gultom adalah seorang antikolonialis, antimissionaris, pendukung gerakan messioanis dan mendapat dukungan dari cendikiawan-cendikiawan yang hidup di kota, yang berjuang melalui politik dan budaya untuk memajukan identitas “Batak”.[39]

Opera Batak secara rutin memainkan cerita yang bersumber dari sastra lisan. Sastra lisan itu merujuk kepada silsilah, legenda, kisah Tuanku Rao dan lain-lain. Gultom selama hidupnya telah berhasil menciptakan lima ratus nyanyian dan lima belas pertunjukkan.

Mulai 1925, para missionaris dari Jerman merasa bahwa “hubungan kebapakan” antara misi dan rakyat sudah hilang. Mereka mengamati meningkatnya jumlah berbagai pesta bukan Kristen yang hendak disebut sebagai pesta Kristen oleh penduduk asli, khususnya pesta gondang-gondang yang sebenarnya pesta pemujaan roh nenek moyang.[40]

Ketika Perang Dunia II berakhir di tahun 1945[41], bangsa Jerman tinggal sebagai negara yang mengalami kekalahan. Kekalahan ini membuat para misionaris RMG harus meninggalkan tanah Batak. Karena para ekspatriat diinternir dan kembali ke negara asal, maka Huria Kristen Batak Protestan (HKBP)[42] harus menyelesaikan sendiri persoalan kebangkitan tradisi Batak yang sempat dianggap punah di akhir abad ke 19. HKBP harus mencari jalan atas masalah pemakaian gondang dan pengalian tulang belulang.

Dalam Sinode Godang HKBP 1946 dibahas mengenai usaha menjauhkan unsur dan praktek Kekafiran dalam penggalian tulang-belulang orang mati. Dalam diskusi tentang masalah penggalian tulang-belulang yang merupakan lanjutan dari peraturan khusus yang dilakukan di Distrik Toba, tampaknya ada kesadaran akan kesulitan untuk mengawasi tindak penggalian tulang-belulang itu. Akhirnya Sinode memutuskan tidak memberi kesempatan untuk melaksanakan penggalian tulang belulang di kalangan masyarakat Kristen di Batak. Tetapi diputuskan bahwa apabila keadaan memaksa, maka penggalian tulang-belulang dapat diizinkan oleh gereja. Tetapi disini kata “keadaan memaksa” itu tidak dijelaskan.[43]

Di tengah ketidaktegasan HKBP itu, orang Batak Toba malah semakin aktif melakukan reburial dalam bentuk pembangunan tugu[44]. Gagasan reburial didorong oleh migrant Batak Toba di Medan, Batam dan Jakarta yang secara ekonomi telah sukses. Selain itu dua peristiwa penting ditahun 1950an dan 1960an, membuat Orang Batak Toba urban (perkotaan) merasa penting membangun network dengan kampung halaman.[45]

Pertama, Orang Batak mulai menjadi komunitas yang kaya dan besar pada tahun 1960an, tetapi pada saat yang sama menjadi komunitas yang kurang aman dan terancam. Kekalahan pemberontakan PRRI pada tahun 1958-59 membuat kepercayaan terhadap orang Batak dikemiliteran di Sumatera Utara menjadi terancam. Penarikan diri tentara pemberontak dipimpin seorang Batak Toba, Kolonel Simbolon, dari Medan menuju Tapanuli pada awal pemberontakan itu secara simbolis mengaris bawahi pentingnya “kampong halaman” sebagai benteng keamanan bagi orang-orang Batak Toba di Republik. Orang Batak Toba migrant, seberapa jauhpun Ia merantau dan kehidupannya sudah dipengaruhi perkotaan, namun tetap menjadikan kampung halaman sebagai tempat perlindungan terbaik.  Jika posisi atau keamanan mereka terancam di kota tempat mereka hidup dan bekerja, maka mereka akan kembali ke kampung halaman.

Kedua, Pemberian gelar Pahlawan Nasional kepada Raja Sisingamaraja XII oleh Presiden Sukarno pada November 1961, telah memicu pembangunan tugu Sisingamaraja XII di Balige tahun 1953 dan sebuah patung besar di Medan tahun 1985. Pada masa demokrasi terpimpin, Sukarno aktif membangun monumen dan tugu pahlawan untuk mengkultuskan kepahlawanan orang-orang tertentu. Ternyata pengkultusan Sisingamaraja XII sebagai pahlawan melalui pembangunan tugu, telah memicu ketidaksenangan marga-marga diluar marga Sinambela. Marga lain memandang bahwa Sisingamangarjaa XII adalah hanya pahlawan bagi marga Sinambela, dan pada kebanyakan marga Sumba. Marga-marga lain akhirnya mulai membangun tugu sendiri untuk menghormati pendiri marga mereka.

Puncak dari pembanguan tugu terjadi mulai tahun 1960an sampai 1980an. Walau gereja belum memberikan izin maupun penolakan secara tegas, namun orang Batak Toba tetap menjalankan reburial. Jika pada masa pra kolonial, reburial dikaitkan dengan semangat menyebah roh nenek moyang. Maka orang Batak Toba ditahun 1960an menggunakan dua landasan Alkitab untuk melegitimasi praktik reburial.

Pertama, orang Batak Toba menggunakan perintah kelima untuk menghormati orang tua dalam hukum Taurat sebagai alasan melakukan reburial. Orang Batak Toba mempercayai bahwa reburial merupakan cara terbaik untuk menghormati orang tua yang telah mati.[46]

Kedua, ayat Alkitab yang paling sering dirujuk adalah kisah migrasi orang Israel dari Mesir kembali ke tanah perjanjian. Yusuf dan Yakub, meminta kepada keturunan agar kelak tulang belulangnya dibawa keluar Mesir. “Apabila aku nanti dikumpulkan pada kaum leluhurku, kuburkanlah aku di sisi nenek moyangku dalam gua yang di lading Efron…maka Ia dikumpulkan kepada kaum leluhurnya” (Kej.49:29,33)[47]

Dalam Sinode Godang HKBP 1952 ditetapkan hukum siasat HKBP. Di dalam hukum siasat itu disebutkan tentang penggalian tulang-belulang orang mati sebagai berikut: HKBP dapat menerima penyelenggaraannya jika tidak akan melakukan segala jenis kekafiran. Tulang belulang harus langsung dimakamkan hari itu juga. Tidak diperkenankan manortori holi-holi (menari sambil mengelilingi tulang belulang), memberi daun sirih, menyuapi tulang belulang. Pendeta setempat harus terlebih dahulu merekomendasikannya.

Sindone Godang HKBP 1957 memperteguh keputusan-keputusan sebelumnya tentang tulang-beluang orang mati. Satu butir yang penting dalam keputusan sinode itu adalah majelis jemaat harus mengawasi pemakaian gondang Batak pada upacara-upacara adat yang mendapat rekomendasi dari gereja HKBP. Peraturan ini keluar untuk melarang anggota jemaat yang membawa tulang-belulang orang matinya kerumah. Menurut peraturan HKBP, tulang belulang orang mati yang sudah digali harus dimakamkan kembali pada hari itu juga.

Pada tahun 1984, didalam sidang sinode HKBP dibentuk komisi khusus untuk meneliti dan menyempurnakan siasat Gereja 1952. Kemudian Sinode Godang HKBP 1988 menetapkan berlakunya Hukum Siasat HKBP yang baru dengan nama: Buku Parmahanion dohot Pamisangon di Huria Kristen Batak Protestan (HKBP). Dalam hukum siasat yang baru ini, penggalian tulang belulang dapat diterima oleh HKBP dengan syarat: 1) Karena kuburan lama rusak atau pembangunan industri, banjir, tanah longsor, menyatukan tulang-belulang keluarga, dikuburkan di daerah lain; 2) Majelis Jemaat setempat berkewajiban untuk mengawasi upacara agar jangan sampai terjadi pelaksanaan religir kafir; 3) Kalau harus menginap maka tulang belulang orang mati harus disemayamkan di gedung gereja.[48]

Antony Reid (2006) dalam penelitiannya tentang reburial, Ia menuliskan salah satu kesimpulan menarik. Kesimpulan itu mewakili pertanyaan banyak orang: mengapa orang Batak Toba lebih memilih membangun tugu, ketimbang sekolah atau rumah sakit? “Seorang guru di Samosir menjelaskan bahwa orang Batak akan menganggap bahwa seseorang yang membangun sekolah-sekolah atau rumah sakit (dianggap-red) hanya sebagai orang yang mau mengangkat dirinya sendiri. Tetapi jika ia menyelenggarakan satu tugu, ia meninggikan seluruh garis keturunan (marga). Semuanya akan berterima kasih kepadanya,” tulis Reid dalam Pulau Orang Meninggal; Mengapa Orang Batak Membangun Tugu? (2006). [49]


* Ditulis untuk melengkapi diskusi bab 1 –21, Novel Sordam karya Suhunan Situmorang di Kobar, Medan Sumatera Utara (Rabu, 30/5/2012).

[1] Daniel Perret, Kolonialisme dan Etnisitas; Batak dan Melayu di Sumatera Timur Laut, 2010, p. 67 menyebut ada perbedaan interpretasi tentang agama awal orang Batak. Pengetahuan tentang penduduk Nusantara (Indonesia) yang secara umum masuk Ras Melayunesia, yang saat itu beragam Islam, dihubung-hubungkan dengan akar agama Batak. Baru tahun 1909 dengan terbitnya buku J. Warneck berjudul Die Religion der Batak, gagasan tentang adanya agama “Batak” yang “secara mendalam berakar pada agama Hindu” dan bertentangan dengan agama Islam Melayu sepenuhnya dapat diterima.

[2] Drs. DJ. Gultom Rajamarpodang, Dalihan Natolu Nilai Budaya Suku Batak, 1992, p. 6-8. Saya ringkas sebagai berikut: Orang Batak percaya Siboru Deak Parujar adalah pencipta bumi. Mitos ini dimulai ketika Siboru Deak Parujar putri Debata Batara Guru dijodohkan Mula Jadi Na Bolon dengan Siraja Odap-Odap. Siboru Deak Parujar yang dikenal sebagai penenun kain (ulos) tidak menerima perjodohan itu, tetapi tidak berani menolak. Dalam kebimbangan, Siboru Deak Parujar sengaja menjatuhkan turak dan alat tenunnya ke banua toru (saat itu dia masih terbagi dua : banua ginjang dan banua toru) agar bisa keluar dari banua ginjang dan menghindari perjodohan. Dengan alasan mengambil alat tenunnya, Siboru Deak Parujar meminta izin kepada Mulajadi Nabolon. Setelah diizinkan, Siboru Deak Parujar turun ke banua toru. Karena banua toru sangat gelap,  Siboru Deak Parujar meminta kepada Mulajadi Na Bolon memberikannya terang. Lalu diberikanlah bulan, bintang dan matahari. Karena Ia turun dengan menggunakan benang tenun, ternyata benang itu tidak cukup sampai kedasar laut tempat turaknya terbenam, maka Siboru Deak Parujar kembali meminta Mulajadi Na Bolon memberikannya sekepal tanah agar Ia punya tempat berdiri. Permintaan itupun dikabulkan. Dengan sekepal tanah itu, Siboru Deak Parujar menempanya menjadi daratan di atas laut. Daratan itu kemudian menjadi bumi yang disebut banua tonga. Mulajadi Na Bolon curiga atas niat Siboru Deak Parujar untuk menghindari pernikahan dengan Raja Odap-Odap. Mulajadi Na Bolon kemudian mengutus Naga Padoha Niaji untuk merusak usaha Siboru Deak Parujar. Namun Siboru Deak Parujar dengan kecantikannya merayu Naga Padoha Niaji. Setelah termakan rayuan, Siboru Deak Parujar mengikat Naga Padoha Niaji di dalam tanah. Setelah tertimbun, di dalam tanah, maka tempat itu menjadi banua toru. Pada akhirnya Siboru Deak Parujar bersedia menikah dengan Raja Odap-Odap.

[3] Pada masyarakat Batak Toba dunia (banua) terbagi atas tiga bagian yaitu : Banua ginjang (benua atas), sebagai tempat bagi Ompu Mulajadi Nabolon. Banua tonga (benua tengah), sebagai tempat tinggal manusia. Banua toru (benua bagian bawah), sebagai tempat para roh-roh jahat maupun yang baik. Selain tempat kediaman Ompu Mulajadi Nabolon, banua ginjang juga menjadi tempat tinggal bagi sahala, debata na tolu, dewa-dewa, suru-suruon parhalado.

[4] Drs. DJ. Gultom Rajamarpodang,  Op.cit, p. 8

[5] Shigehiro Ikegami,  Historical Changes of Batak Toba Reburial Tombs: A Case Study of a Rural Community in the Central Highland of North Sumatra, 200, p.648.

[6] Sumangot adalah roh yang dianggap terhormat dan bermartabat.

[7] Tidak semua begu bisa menjadi sumangot. Ada beberapa syarat, misalnya: Pertama, orang yang telah mati itu telah menjadi gelar ompu. Ompu secara sederhana dianggap telah mempunyai anak dan cucu, terutama memilki anak dan cucu laki-laki. Kedua, orang yang mati pada masa hidupnya punya kekuasaan dan harta yang banyak, sehingga cucunya mampu mengangkat derajatnya. Ketiga, mati karena penyakit tua. Bukan mati pada masa anak-anak, dibunuh, kecelakaan dan penyakit menular. Lihat Shigehiro Ikegami, Op.Cit, P.649-650.

[8] Drs. DJ. Gultom Rajamarpodang,  Op.cit p. 468

[9] Shigehiro Ikegami, Op.Cit. p. 651-652.

[10] Bungaran Antonius Simanjuntak, Konflik Status dan Kekuasaan Orang Batak  Toba, p.73-74.

[11] Burton dan Ward menuliskan laporan mereka bertajuk Memasuki Negeri Batak Toba, 1824 dalam Antony Reid, Sumatra Tempo Doloe; Dari Marcopolo Sampai Tan Malaka, p. 212-231

[12] Bungan Antonius Simanjuntak, Op.Cit, p.74.

[13] DR. Togar Nainggolan, Batak Toba di Jakarta; Kontinuitas Perubahan dan Identitas, p. 234.

[14] Kematian Sisingamaraja XII memicu kelahiran gerakan kebudayaan orang Batak Toba bernama Parmalim. Pelopor gerakan ini adalah Guru Sumaliang Pardede, yang berasal dari daerah Balige, pengikut dan Datu Sisingamaraja XII (Lihat Daniel Peret, Kolonialisme dan Etnisitas; Batak dan Melayu di Sumatera Timur Laut, 2010, p. 306-307). Tujuan gerakan ini untuk mempertahankan ritual (adat) Batak Toba sebagai bentuk perlawanan terhadap Belanda dan RMG (lihat Sitor Situmorang, Toba Na Sae; Sejarah Lembaga Sosio Politik Abab XII, p. 251 – 363)

[15] Huta berasal dari kata Kuta, dari bahasa sansekerta, berarti benteng. Kalau dilihat dari pengertian ini, huta Batak adalah suatu wilayah perbentengan yang ditandai adanya parik dan bambu duri. Dari segi ini huta Batak merupakan satu kesatuan sosial, beranggotakan klan lineage yang berdiam di dalam benteng.

[16] Horja adalah satu wilayah tertentu yang didiami oleh satu cabang marga selama beratus tahun.

[17] Bius adala tingkatan wilayah yang lebih tinggi dari huta dan horja (gabungan dari horja).

[18] Penjelasan lengkap tentang Huta, Horja dan Bius lihat buku Bungaran Antonius Simanjuntak, Struktur Sosial dan Sistem Politik Batak Toba Hingga 1945, Yayasan Obor Indonesia, Jakarta, 2006.

[19] Johan Hasselgren, Batak Toba di Medan; Perkembangan Identitas Etno-Religius Batak Toba di Medan (1912-1965), p.96.

[20] DR. Togar Nainggolan, Op.Cit, p. 228-229.

[21] Uli Kozok, Utusan Damai di Kemelut Perang; Peran Zending dalam Perang Toba, p. 73-74.

[22] Lebih lengkap silahkan baca disertasi doktoral Jan Sihar Aritonang, The Encounter of Batak People With Renish Mission-Gesselchaft in The Field of Education (1861-1940); a Historical-Theological Inquiry, Sekolah Tinggi Teologia Jakarta, Jakarta, 2000.

[23] Salah satu usaha westernization orang Batak Toba oleh Belanda, dapat dilihat dari perlakukan Belanda kepada keturunan Sisingamaraja XII. Keturunan itu walau berstatus sebagai interniran (tawanan), namun mereka diberi pendidikan yang baik. Bahkan salah satu cucu Sisingamaraja XII  Raja Boental, belajar di sekolah hukum (Resctschool) di Batavia (lihat, Sitor Situmorang, Op.Cit, p. 361-362).

[24] Jan Sihar Aritonang, Op.Cit, p.444.

[25]  Orang Batak Toba dikenal selalu ingin maju. Pembukaan jalan antara Medan sampai ke dataran tinggi di sekitar Danau Toba, ikut mendorong semangat migrasi. Sampai tahun 1909, diperlukan setidaknya tiga hari untuk pergi dari Medan ke dataran tinggi di utara Danau Toba. Mulai tahun 1917, jalur perhubungan pesisir timur-pesisir barat menjadi lebih mudah. Dari Medan, Pematang Siantar dapat dicapai lewat jalan raya atau dengan kereta api, dan dari sana perjalanan dapat dilanjutkan melalui jalan raya menuju Parapat di tepi Danau Toba (lihat Daniel Perret, Op.Cit, p. 283-285).

[26] Migrasi Batak Toba ke daerah Melayu sudah lama terjadi sebelum masuknya Islam ke Indonesia pada abad 13. Batak Padembanan adalah contoh dari migrasi ini. Mereka berasal dari Batak Toba kemudian menjadi Melayu dan Islam sesudah pindah ke daerah Melayu. Mereka menyebut diri sebagai Melayu Pantai. (lihat, DR. Togar Nainggolan, Op.Cit, p. 86-96).

[27] Daniel Perret, Op.Cit, p. 300-304.

[28] Status pegawai sangat dihargai dalam masyarakat Batak Toba. Pendidikan adalah “cangkul emas” sarana untuk keluar dari pekerjaan membosankan di sawah dan kehidupan monoton kampong. Mereka berusaha menyelesaikan pendidikan dasar di kampong, kemudian melanjutkan sekolah menengah dan kalau mungkin terus keperguruan tinggi di kota. Karena itu ratusan ribu Batak Toba, yang Kristen dan terpelajar, keluar dari daerah asalnya dengan pemikiran bahwa diluar daerahnya mereka akan memperoleh masa depan yang lebih baik (lihat DR. Togar Nainggolan, Op.Cit, p.202).

[29] Migrasi orang Batak Toba tidaklah berlangsung dengan mudah. Generasi awal migrasi orang Batak Toba mengalami proses “kekalahan”, dimana mereka harus menerima budaya Melayu sebagai identitas baru, meninggalkan identitas Batak Toba. Misalnya orang Batak Toba yang berimigrasi di akhir abad ke 19 ke Medan, mendapatkaan cemoohan dan perlakuan yang tidak manusiawi. Mereka dianggap sebagai orang yang tidak percaya (kafir) dan tidak bersih (najis), disebut sebagai pemakan babi dan kanibal. Mereka mempunyai kesulitan untuk mendapatkan pekerjaan dan izin tempat tinggal. Jika salam atau doa Kristen diucapkan direstoran public, orang Batak diminta meninggalkan restoran tersebut. Batu dan kotoran dilempar kea tap rumah-rumah mereka dimana diadakan ibadah Kristen. (Lihat DR Togar Nainggolan, Op.Cit, p. 100).

[30] Migrasi awal orang Batak Toba ke Jakarta lebih didorong keinginan melanjutkan pendidikan yang lebih tinggi. Generasi pertama Batak Toba di Jakarta adalah generasi intelektual dan punya pengaruh yang kuat. Penjelasan lengkap tentang migrasi ini dijelaskan DR.Togar Nainggolan lewat disertasi doktoral antropologinya di Leiden, Belanda yang kemudian dibukukan dengan judul Batak Toba di Jakarta; Kontinuitas dan Perubahan Identitas, Penerbit Bina Media, Medan, 2006.

[31] DR. Togar Nainggolan, Loc.It, p. 239

[32] Praktik reburial pada masa itu, hanya dilakukan masyarakat Batak Toba di pedesaan. Pengaruh dari masyarakat Batak Toba dari perkotaan, belum begitu tampak. Jaringan (network) antara orang Batak Toba desa dan orang Batak Toba urban (perkotaan) hanya sebatas network sosial.

[33] Antony Reid, Pulau Orang Meninggal; Mengapa Orang Batak Membangun Tugu?, dalam Henri Chamber-Loir & Antony Reid, Kuasa Leluhur; Nenek Moyang, Orang Suci, dan Pahlawan di Indonesia Kontemporer, p. 168

[34] DR. Togar Nainggolan,  Op.Cit, p.101

[35] Daniel Perret, Op.Cit, p. 379

[36] Antony Reid, Op.Cit, p.180-181.

[37] Tuan M.H Manullang menamatkan pendidikannya di Senior Cambrigde Singapura. Kemudian Ia mendirikan sekolah di Bogor sambil mengajar bahasa Inggris dan menjadi pendeta. Sejak di Bogor, Ia telah aktif sebagai wartawan dan mulai terlibat dalam pergerakan nasional lewat kontaknya dengan Abdul Muis di Bandung. (lihat Sitor Situmorang, Op.Cit, p.364-369).

[38] Daniel Perret, Op.Cit, p.340.

[39] Daniel Perret, Op.Cit, p. 350

[40] Daniel Perret, Op.Cit. p.340

[41] Pasca Revolusi, terjadi pembantaian terhadap Sultan Melayu yang selama masa colonial dianggap sebagai perpanjangan tangan Belanda. Disaat yang sama pula, orang Batak Toba semakin berani menunjukkan identitasnya dan merebut posisi penting di dalam republik yang masih muda. Gambaran tentang revolusi sosial di sumatera utara dapat dilihat dari: Wara Sinuhaji, Patologi Sebuah Revolusi: Catatan Antony Reid Tentang Revolusi Sosial di Sumatera Timur; Maret 1946, dalam Jurnal Historisme, Universitas Sumatera Utara, Edisi No.23, January 2007

[42] HKBP adalah gereja yang didirikan sebagai penerus RMG/Missionbatak lewat badan hukum (Recht Person) pemerintah Kolonial Belanda tanggal 11 Juni 1932 N. D 48, Indisch Staatsblad 192 no.360 (lihat dalam Prof. Bungaran Antonious Simanjuntak, Pemikiran Tentang Batak; Setelah 150 Tahun Agama Kristen di Sumatera Utara, Yayasan Obor Indonesia, Jakarta, 2011).

[43] DR. Togar Nainggolan, Op.Cit, p.231-232.

[44] Sebelum 1930an, orang Batak Toba tidak mengenal tugu sebagai kuburan. Orang Batak hanya mengenal dua jenis kuburan yaitu Tambak Na Timbo dan Batu Na Pir. Setelah istilah tugu menjadi popular, maka orang Batak Toba kemudian mentransformasikan istilah  Batu Na Pir sebagai padanan tugu. Sehingga tugu juga dianggap sebagai kuburan batu.Tugu pertama yang dibangun untuk pendiri marga dibangun oleh marga Tampubolon di Balige tahun 1934.

[45] Antony Reid, Op.Cit, p.185-187

[46] Sebagai orang Batak Toba bahkan mempercayai bahwa reburial merupakan upaya Kristenisasi bagi nenek moyang yang pada hidupnya belum menjadi Kristen. Hal itu dipercayai karena ritual reburial dibuka dengan doa Kristen dan ditutup juga dengan doa Kristen.

[47] Argumentasi teologis ini masih terus diperdebatkan sampai sekarang. Sebagian ahli Teologi tidak menolak penggunaan ayat alkitab ini sebagai landasan reburial, tetapi mempersoalkan penggunaan dana yang besar. Pdt.Dr. Ir. Mangapul Sagala misalnya menulis,” lalu bagimana sikap kita? Untuk itu diperlukan keterbukaan dan kemampuan untuk menganalis ‘untung’ ‘rugi’ dari acara tersebut. Terus terang, setelah bergumul cukup lama, sekalipin kelihatannya ada ayat-ayat alkitab yang mendukung tindakan penggalian tuang belulang tersebut, mengingat pemborosan dana yang sedemikian besar, saya cenderung tidak menyetujuinya. Kecuali hal itu dilakukan dengan sangat sederhana.” (lihat Pdt.Dr. Ir. Mangapul Sagala, Injil dan Adat Batak, p. 103-105) (Sikap yang hampir sama juga diajukan oleh Pdt. DR. S.M. Hutagalung lewat Pembangunan Tugu Ditinjau dari Sudut Iman Kristen, dalam dalam Prof. Bungaran Antonious Simanjuntak, Pemikiran Tentang Batak; Setelah 150 Tahun Agama Kristen di Sumatera Utara, p.79-88). Sikap berbeda diajukan oleh Marojahan S. Sijabat yang menyimpulkan empat hal. Pertama, walaupun penggalian tulang-belulang memakai ayat-ayat Alkitab sebagai dukungan tetapi Alkitab belum pernah member dukungan secara eksplisit.  Kedua, penggalian tulang-belulang dan pendirian tugu telah memiskinkan kehidupan ekonomi orang Batak secara umum dan rakyat di Tapanuli Utara khususnya.  Ketiga, penyembahan kepada roh nenek moyang dalam upacara penggalian tulangbelulang dan pendirian tugu di Tapanuli Utara sangat bertentangan dengan pandangan Perjanjian Lama yang tidak boleh menduakan Tuhan, baik secara iman maupun dalam kehidupan praktis.  Iman tanpa perbuatan pada hakikatnya adalah mati.  Keempat, pada penggalian tulang-belulang dan pendirian tugu juga ada acara meminta atau bertanya kepada orang mati dan hal ini tidak diperkenankan oleh Perjanjian Lama.  Jadi, Alkitab sama sekali tidak memberi tempat pada penyembahan berhala dan meminta/bertanya kepada roh yang sudah mati, siapa pun orang itu. (lihat Marojahan S. Sijabat, dalam Penggalian Tulang Belulang: Sebuah Kritik Injili Terhadap Pembangunan Tugu di Tapanuli Utara, p.13).

[48] DR. Togar Nainggolan, Op.Cit, p. 232-233

[49] Kesimpulan lengkap Reid lihat Antony Reid, Op.Cit, hal.188-193

Referensi:

Antony Reid, Sumatera Tempo Doeloe; Dari Marcopolo Sampai Tan Malaka, Komunitas Bambu, Jakarta, 2010.

Antony Reid, Pulau Orang Meninggal; Mengapa Orang Batak Membangun Tugu?, dalam Henri Chamber-Loir & Antony Reid, Kuasa Leluhur; Nenek Moyang, Orang Suci, dan Pahlawan di Indonesia Kontemporer, Penerbit Bina Media Perintis, Medan, 2006.

Bungaran Antonius Simanjuntak, Konflik Status dan Kekuasaan Orang Batak Toba, Yayasan Obor Indonesia, Jakarta, 2009.

Bungaran Antonius Simanjuntak, Struktur Sosial dan Sistem Politik Batak Toba hingga 1945, Yayasan Obor Indonesia, Jakarta, 2006.

Daniel Perret, Kolonialisme dan Etnisitas; Batak dan Melayu di Sumatera Timur Laut, Kepustakaan Populer Gramedia (KPG), Jakarta, 2010.

Drs. DJ. Gultom Rajamarpodang, Dalihan Natolu Nilai Budaya Suku Batak, CV Armada, Medan, 1992.

DR. Togar Nainggolan, Batak Toba di Jakarta; Kontinuitas dan Perubahan Identitas, Penerbit Bina Media, Medan, 2006.

DR.Irmawati, Keberhasilan Suku Batak Toba; Tinjauan Psikologi Ulayat, Makalah Seminar Psikologi Budaya, Program Psikologi Fakultas Kedokteran Universitas Sumatera Utara, Medan, 2007.

Jan Sihar Aritonang, The Encounter of Batak People With Renish Mission-Gesselchaft in The Field of Education (1861-1940); a Historical-Theological Inquiry , Disertasi Doktoral, Sekolah Tinggi Theologia, Jakarta, 2000.

Johan Hasselgren, Batak Toba di Medan; Perkembangan Identitas Etno-Religius Batak Toba di Medan (1912-1965), Penerbit Bina Media Perintis, Medan, 2008.

Kathrin-Christine Situmorang, The Organization of Trade in North Sumatra;  Batak Traders and Network, Disertasi Doktoral, Universitas Bonn, Jerman, 2011.

Marojahan S. Sijabat, Penggalian Tulang Belulang: Sebuah Kritik Injili Terhadap Pembangunan Tugu di Tapanuli Utara, paper to Southeast Bible School, Malang, 2010.

Pdt. DR.Ir Mangapul Sagala, Injil dan Adat Batak, Yayasan Bina Dunia, Jakarta, 2011

Pdt. DR. S.M. Hutagalung, Pembangunan Tugu Ditinjau dari Sudut Iman Kristen, dalam Prof. Bungaran Antonious Simanjuntak, Pemikiran Tentang Batak; Setelah 150 Tahun Agama Kristen di Sumatera Utara, Yayasan Obor Indonesia, Jakarta, 2011.

Shigehiro Ikegami, Historical Changes of Batak Toba Reburial Tombs: A Case Study of a Rural Community in the Central Highland of North Sumatra, Journal of Southeast Asian Studies, Vol.34, No.4, March 1997

Sitor Situmorang, Toba Na Sae; Sejarah Lembaga Sosio Politik Abad XIII-XX, Komunitas Bambu, Jakarta, 2009.

Susan Rodgers Siregar, A Modren Batak Horja: Innovation in Sipirok Batak Ceremonial, diakses dari http://www.ethomusicscape.de.

Uli Kozok, Utusan Damai di Kemelut Perang; Peran Zending dalam Perang Toba, Yayasan Obor Indonesia, Jakarta, 2010.

Wara Sinuhaji, Patologi Sebuah Revolusi: Catatan Antony Reid Tentang Revolusi Sosial di Sumatera Timur; Maret 1946, dalam Jurnal Historisme, Universitas Sumatera Utara, Edisi No.23, January 2007.

William Marsden, Sejarah Sumatra, Komunitas Bambu, Jakarta, 2008.

One thought on “Reburial: Dari Mitos Menuju Status Sosial *

  1. Lae Erix, informasinya sangat penting. Saya punya usul agar digali info sejak kapan orang Batak Toba bermigrasi ke Jakarta, Bandung, Bangka, Riau Kalimantan dan lain-lain di luar Tapanuli. Terima kasih.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s