Masyarakat Nirbatas

BERSALAHKAH  komunitas Batak Mandailing di Malaysia meminta pengakuan atas gondang sembilan  dan tortor kepada penguasa negeri jiran itu? Tentu saja tidak!

Sebagai warga negara Malaysia, komunitas Batak Mandailing sudah tepat meminta perlindungan, pengakuan sekaligus pengembangan budaya dari negaranya. Malah akan keliru jika komunitas Batak Mandailing di Malaysia meminta pengakuan legal dari pemerintah Republik Indonesia. Selain hukum Indonesia pasti tidak berkutik di sana, Pemerintah RI juga terkenal sering abai mengurus kebudayaan. Jadi, meminta pengakuan Indonesia itu sama saja berniat menjaring angin.

Lantas kenapa orang Indonesia meradang? Menurut saya orang Indonesia tidak mau sedikit berlelah membaca sejarah. Peristiwa pengakuan atas gondang sembilan dan tortor  oleh Malaysia seperti mengulang kisah lama migrasi orang Batak Toba ke Medan pada awal abad 20, masa perjuangan menunjukkan diri sekaligus upaya mendapatkan pengakuan atas identitas sebagai Batak Toba di tanah Melayu.

Sebelum migrasi besar-besaran orang Batak Toba di akhir abad 19, orang Batak Toba dikenal sebagai orang liar dipedalaman. Orang Batak Toba dan budayanya sudah dilokalisir ke dalam bounded system, melalui batas-batas geografis. Sarjana Perancis, Daniel Perret (1994) mencatat banyak perubahan atas intrepretasi batas geografis tanah Batak. Franz Wilhem Junghuhn  (1874) meletakkan tanah Batak sebagai negeri tanpa batas. James R. Logan (1856) menempatkan orang Batak di pedalaman Sumatra. Brau de Saints Pol Lias (1884) membuat orang Batak tersebar di pegunungan antara Aceh sampai Palembang. Dan Antony Reid (1979) dan Sibeth (1991) melokalisir orang Batak di sekitar Pantai Barat dan Danau Toba.

Bounded system membuat siapa saja yang keluar dari tanah Batak kehilangan identitas Bataknya. E.M. Bruner (1961) menemukan sebutan Batak Pardembanan bagi migran Batak yang sudah kehilangan identitas asli. Batak Pardembanan merujuk pada migrasi orang Batak pada abad ke 3 menuju Pantai Timur Sumatra. Di wilayah baru itu, para migran menemui kenyataan dominasi Melayu yang sudah bergama Islam. Demi melindungi diri, migran Batak harus meninggalkan budaya dan religi nenek moyang lama. Mereka menjadi orang Melayu dan menyebut diri sebagai Melayu Pantai.

Orang Melayu menganggap diri sebagai penduduk asli Pantai Timur. Di luar Melayu mereka dianggap penyusup sekalipun etnis itu sudah beragama Islam. Etnis pendatang harus berasimilasi dengan tradisi Melayu. Etnis Minangkabau dan Batak Mandailing mengalami asimilasi yang sama.

Di tanah perantauan, orang Batak Toba tidak bisa terang-terangan menujukkan identitas. Mereka dianggap tidak punya keyakinan (kafir)dan kotor (najis). Dicap kanibal dan pemakan babi, sehingga hanya boleh tinggal di pinggir kota. Dipersulit mendapatkan pekerjaan dan izin tinggal. Bagi mereka, suku Batak umumnya hanya melakukan pekerjaan “3 D”: dirty, difficult, dan dangerous. Jika makan di restoran umum sambil mengucapkan doa dan salam Kristen, orang Batak Toba itu segera diusir.

Mengakui diri sebagi orang Batak Toba menjadi pilihan sulit melakoni hidup di kota Medan. Sebagian  besar dari mereka menyembunyikan identitas atas alasan keselamatan. Ada pula yang mengganti identitas menjadi Melayu, Minangkabau, atau Mandailing, dan masuk Islam. Namun, sesekali secara diam-diam, mereka pulang kampung untuk mempraktikkan ritual adat Batak Toba.

Di tahun 1934, antropolog Amerika Serikat H.H Bartlett memprediksi tradisi Batak akan punah, seperti keyakinan pejabat kolonial Belanda di akhir abad 19. Kepercayaan itu disandarkan pada kenyataan orang Batak sudah mendapatkan pendidikan Barat dan menjadi Kristen. Mereka dianggap sulit kembali kepada religi nenek moyang. Ditambah lagi semakin banyak orang Batak, khususnya Batak Toba, meninggalkan tanah Batak berimigrasi ke wilayah lain. Pada tahun 1950-1956 saja, setidaknya ada 250.000 orang Batak Toba pindah ke Sumatera Timur.

Pembangunan jalan Medan-Sibolga tahun 1915 dan rel kereta api Medan-Pematang Siantar tahun 1916 ikut mempercepat laju urbanisasi. Orang Batak Toba dari sekitar pegunungan Bukit Barisan membanjiri kota Medan. Mereka ditampung oleh kerabat urban yang duluan berimigrasi ke Medan. Pertumbuhan pesat orang Batak di Medan telah memicu lahirnya perkampungan-perkampungan baru. Di perkampungan itu mereka secara sembunyi-sembunyi melaksanakan ritual adat.

Di tahun 1920-an, seiring jumlah yang terus bertambah, membuat Orang Batak Toba perlahan berani menunjukkan identitas. Sedangkan di sisi kolonial Belanda, terjadi perubahan perspektif dalam melihat Batak Toba. Belanda mulai memisahkan etnis Batak dari Melayu.

Pemisahan etnisitas sudah dimulai tahun 1888, melalui penempatan controleur  urusan “Batak”. Salah satu tujuan usaha ini adalah membela kepentingan orang Batak ketika berhadapan dengan Melayu. Selain itu, usaha ini ditujukan untuk kemakmuran dan memperdalam pengetahuan tentang orang Batak. Sebagai langkah konkrit,  tahun 1908 Belanda mendirikan  Batakcsh Instituut di Leiden, Belanda.

Kebangkitan etnisitas Batak memarakkan ritual adat Batak Toba di Kota Medan. Mereka telah rutin menggelar musik orkestra Batak (gondang) dan menari (tortor), membentuk perkumpulan-perkumpulan. Termasuk mendirikan perkumpulan politik untuk memperjuangkan hak-hak mereka.

Orang Batak mengubah bounded system menjadi borderless society, masyarakat nirbatas. Secara berani mereka menghapus batasan geografis sebagai penghalang praktik kebudayaan dan identitas. Orang Batak Toba tidak perlu harus pulang  ke kampung agar bisa melakukan adat. Di mana pun berada, mereka sudah berani dan bisa melaksanakannya.

Masyarakat nirbatasorang Batak Toba mencapai titik puncak ketika revolusi kemerdekaan menyapu Sumatera Timur tahun 1945. Hilangnya pengaruh politik sultan-sultan Melayu berimbas memudarnya dominasi Melayu atas etnis-etnis lain. Orang Batak Toba, Batak Mandailing, Batak Karo, Minangkabau, dan Melayu menjadi sejajar sebagai warga negara Indonesia. Orang Islam dan orang Kristen tidak lagi diperlakukan berbeda.

Johan Hasselgren (2000) menulis disertasi perubahan identitas orang Batak Toba di Medan itu dengan judul provokatif Rural Batak, Kings in Medan. Menurut Johan sejak saat itu identitas orang Batak Toba telah diakui secara terbuka. Ritual adat Batak Toba tidak lagi dilarang dan ritual itu sudah menjadi bagian tidak terpisahkan dari identitas  kota Medan.

Menurut hemat saya transformasi masyrakat nirbatas juga terjadi bagi orang Batak Mandailing di Malaysia. Adat bagi orang Batak bukan sekadar budaya manusia, tetapi sebuah ‘religi’. Tidak perduli apakah orang Batak itu sudah beragama Islam atau Kristen. Jika Ia seorang muslim, maka akan menambahkan doa pembuka dalam bahasa Arab sebelum memulai ritual adat. Jika Ia seorang nasrani, maka adat resmi dibuka lewat doa-doa Kristen. Adat selalu dibawa dan dipraktikkan di mana saja selama komunitas etnis tersedia.

Maka kemudian menjadi tidak aneh jika komunitas Batak Mandailing di Malaysia tetap menjalankan adat sekalipun mereka bukan warga negara Indonesia. Karena adat melekat pada status etnisitas mereka sebagai Batak Mandailing, bukan pada status mereka sebagai warga negara Malaysia. Sebagai praktik masyarakat nirbatas orang Batak Mandailing di Malaysia pasti mewariskan adat nenek moyang kepada generasi muda. Sehingga gagasan meminta pengakuan dari pemerintah Malaysia atas gondang sembilan dan tortor menjadi pilihan yang paling logis untuk melindungi tradisi Batak Mandailing di sana.

Namun, Komunitas Batak Mandailing di Malaysia tidak boleh pula mendaku gondang sembilan dan tortor aslinya berasal dari Malaysia. Klaim seperti itu hanya menuai cemoohan akademik dan pertengkaran sejarah. Malaysia tidak punya Danau Toba dan Pusuk Buhit, dua tempat yang berpengaruh besar dalam mitologi Batak.

Berabad-abad sebelum Indonesia dan Malaysia menjadi negara, etnis Batak sudah diidentifikasikan secara ilmiah oleh peneliti Barat sebagai penghuni wilayah di sekitar Danau Toba. Bahkan dari  Missionaris Johannes Warneck (1909) sampai  antropolog sekelas Antony Reid (1979) sepakat bahwa orang Batak percaya nenek moyangnya turun di puncak Pusut Buhit yang terletak di Pulau Samosir, Sumatera Utara. ***

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s