Tantangan Alternatif Pembangunan

WARJIO punya gagasan bagus dalam artikel Mafia Berkeley vs Mafia Isdev (KORAN SINDO MEDAN, 22 April 2013).

Merujuk hasil International Conference Islamic Development (ICID) 2013 di Medan, Warjio menawarkan pembangunan berteraskan Islam (PBI) sebagai alternatif pembangunan melawan sistem ka pitalisme dan liberalisme. Prakarsa dari The Centre for Islamic Development Management Studies (ISDEV)di Universiti Sains Malaysia (USM) ini, tentu me narik didiskusikan lebih lanjut.

Saat ini, dunia memang sedang mencari model pem bangunan alternatif. Selain ISDEV dengan PBI, ada juga ekonom seperti Joseph E Stiglitz, Amartya Sen, dan Jean-Paul Fitoussi yang mengajukan Gross National Happiness (GNH). GNH ditujukan merevisi pa – tokan kinerja pembangunan yang selama ini cuma merujuk GNP (Gross National Product). Bagi Stiglitz, GNP bukanlah tolak ukur nyata kesejahteraan sebuah negara-bangsa (nation state).

Kebahagiaan warga (citizen’ happiness)seharusnya men – jadi ukuran keberhasilan program pembangunan pemerintah. Pendapat para ahli itu dirangkum dalam laporan Commission on the Measurement of Economic Performance and Social Progress (2009). GNH sendiri di – inspirasi dari kebijakan pembangunan Raja Bhutan ke-4, Jigme Singye Wangchuck pada 1972.

Filosofi GNH adalah menyeimbangkan per tumbuhan ekonomi (economic growth) dengan tingkat emosi dan spi ri – tual masyarakat (peoples’ emotional and spiritual balance). Wang chuck meyakini setiap orang pada dasarnya mengejar kebahagiaan, bukan kekayaan. Kebahagiaan hanya bisa terwujud jika ada keseimbangan antara kesejahteraan, emosi po – si tif, dan kehidupan spiritual yang baik.

Ada sembilan domain yang men jadi ukuran GNH yaitu, tingkat keseja ht era an/kebahagiaan psikologis (psychological wellbeing),kesehatan (health), pendidikan (education),pemanfaat an waktu (time use),kera – gaman dan ketahanan budaya (cultural diversity and resilience), pemerintahan yang baik (good governance),daya hidup ko mu – nitas (community vitality),kera – gaman dan ketahanan ekologis (ecological diversity and re si lien – ce), dan taraf hidup (living stan – dard). Sebagai alternatif pembangunan PBI maupun GNH mem bawa kita pada pertanyaan pen ting. Apakah model ter se – but akan berhasil di Indonesia?

Bertarung di Kelas Ekonomi

Tantangan pertama PBI mau pun GNH ada di wilayah aka demik. Biarpun PBI dan GNH dirumuskan oleh ekonom ternama, namun tidak sertamerta konsep ini bisa diajarkan di Fakultas Ekonomi. PBI mau – pun GNH harus terlebih dulu menggeser dominasi para digma neoklasik yang diwariskan Ma fia Berkeley.

Ada dua wa ris – an Mafia Berkeley yang masih merajai pengajaran di fakultas ekonomi. Pertama,dominasi konsep homoeconomicus (manusia ekonomi). Konsep ini selalu diajarkan secara berlebihan di kelas teori. Ide ini merujuk pada The Nature And Causes of The Wealth of Nations (1776) yang ditulis Adam Smith. Di sini keegoisan manusia (selfish) untuk memenuhi kebutuhannya dianggap sebagai ke wa jar – an.

Istilah maximum gain mi nimum sacrificedijadikan prinsip suci ekonomi yang pantang dilanggar. Inilah yang membuat cara berpikir sarjana ekonomi kita tak ada bedanya dengan para spekulan di pasar modal, yaitu hanya uang dan keun – tungan. Sebaliknya, konsep homosocialis( manusia sosial) yang ditulis Smith dalam On the Theo ry of Moral Sentiments (1759),malah diringkas atau bahkan dibonsai habis di fa kul – tas ekonomi.Padahal, Smith menekankan pentingnya empati atau cinta kasih manusia kepada masyarakatnya.

Kedua, dominasi empiris-analitis atau deduktif sebagai alat analisis. Logika ini menekankan bahwa ekonomi adalah ilmu murni yang bebas nilai. Paradigma ini merujuk gagasan kelompok positivisme dalam perdebatan metodologi di abad ke-18. Posi – ti visme menganggap klaim ilmiah hanya dapat dibuktikan kebenarannya lewat metode ilmu alam (natural science).

Setiap pengetahuan yang tidak ber dasarkan metode ilmu alam, dianggap tidak layak disebut sebagai ilmu. Pandangan positivisme ini membuat ilmu ekonomi mengalami dua hal. Pertama,dianggap terpisah dari ilmu-ilmu sosial seperti sosiologi, antropologi, dan ilmu kritik sosial lainnya. Kedua, melalui pemikiran Ragar Frish dan Jan Timbergen yang mengembangkan Ekonometri, ilmu ekonomi disahkan sebagai ilmu murni dengan mengambil statistika dan matematika sebagai alat analisisnya. Pada titik inilah PBI dan GNH akan berhadapan de ngan teori neoklasik secara akad emik.

Neoklasik tegas menolak memasukkan faktor ke adil an dan kebudayaan dalam analisi snya. Para ekonom barisan neo – klasik berkeyakinan penuh bahwa faktor etis seperti nilai, etika, dan ideologi tidak ber per – an dalam penentuan kebijakan ekonomi. Kebalikannya, PBI dan GNH didesain atas dasar keadilan, kebahagiaan, ke – baikan umat, dan rahmat Tu han Yang Maha Esa.

Sokongan Politik

Melalui lintasan sejarah, kita bisa melihat bahwa pilihan mo – del pembangunan selalu d i – tentukan oleh sokongan politik. Mo del sosialisme menjadi juara di masa Orde Lama (Orla) ka re na disokong Presiden Soekaro yang berpaham sosialis. Sementara dominasi neoklasik berjaya di zaman Orde Baru (Orba) berkat dukungan politik Pre siden Soeharto melalui Gol kar dan militer.

Pengaruh neoklasik dimulai ketika alumnus Uni – versity of California, Ber keley, AS menukangi pem ba ngunan pada tahun 1960-an. Wi djojo Nitisastro, pemimpin Ma fia Berkeley menekankan, pe r – tumbuhan ekonomi adalah s a tusatunya jalan pembangunan. Dampaknya, investasi asing me ngucur deras ke Indonesia. Al hasil, angka-angka statistik pun segera melonjak drastis, inflasi yang pernah mencapai 600% berhasil ditarik hingga di bawah dua digit.

Sukses inilah yang membuat Indonesia di – gan jar Bank Dunia sebagai salah satu “the Asian Economic Mi – racle”.Kesuksesan ini menjalar ke ruang kuliah di fakultas ekonomi. Teori ekonomi ne o – klasik bersama metode analitis empirik didaulat sebagai buku ba bon ekonomi. Pengajar eko – nomi merasa tidak bertaraf in – ter nasional, kalau tidak meru – juk Paul Samuelson.

Kajian ekonomi terasa hambar kalau tidak ada rimbunan statistika. Pada masa Orba, kepentingan itu terlihat jelas dari usaha para ahli pem ba – ngunan dan peneliti sosial mengontrol dan memanipulasi informasi agar bisa mem pre – dik si perubahan sosial. Melalui kon trol politik yang ketat, ma – syarakat direkayasa, termasuk de ngan kekerasan agar targettarget yang telah dituangkan dalam cetak biru pem – bangunan menjadi kenyataan.

Praktik manipulatif ini sebenarnya menunjukkan paradoks teori ek o nomi neoklasik bersama model empiris-analisisnya. Karena apa yang tertera di atas kertas ber da sarkan statistik dan mate matika cenderung berbeda, bah kan berlawanan dengan ke – nyataan. Dengan kata lain, per – tumbuhan ekonomi yang tinggi se kalipun belum tentu ber dampak pada pemerataan kese jahteraan rakyat.

Ironisnya, sekalipun per – ekonomian yang dibangun Widjojo Nitisastro rubuh di tahun 1998, namun praktik neoklasik tetap bercokol sampai sekarang. Per gan tian rezim tidak secara otomatis mengganti model pembangunan. Hal itu bisa terjadi, karena fakultas ekonomi di Indonesia terus me – la hirkan ekonom-ekonom neo – klasik seperti Budiono dan Sri Mulyani.

Dan merekalah men – jadi arsitek utama pem ba – ngunan. Di akhir tahun 1990- an bengawan ekonomi UGM itu, Prof Dr Mubyarto meng kri – tik neoklasik yang enggan me – ma sukkan faktor keadilan dan kebudayaan dalam analisisnya. Dia menawarkan ekonomi Pan – ca sila sebagai jalan tengah. Na – mun, tawaran Mubyarto bagai jeritan di padang pasir. Prakarsa itu tak pernah menjadi arus be sar (mainstreaming)dalam diskursus teori ekonomi di In do ne sia.

Tiadanya dukungan politik menyebabkan ekonomi Pancasila tidak bergaung. Walau digagas puluhan tahu lalu, teori ekonomi Pancasila lebih sering menjadi topik diskusi di ruang seminar, ketimbang diadopsi menjadi program pembangunan. Sampai di sini, saya tertarik menanti usaha para penganjur PIB maupun GNH mem per – juangkan gagasannya.

Akankah me reka meraup dukungan po litik. Penganjur PIB maupun GNH harus membuktikan bah wa rintisan pembangunan yang mereka tawarkan bisa mengakomodir keberagaman budaya In – donesia. Mereka harus mem – buk tikannya dalam realitas. Karena kajian akademis saja belum cukup membuktikan PIB maupun GNH cocok dan diterima di Indonesia.(*)

Artikel ini diterbitkan pertama sekali oleh Koran Sindo Medan (Senin, 29 April 2013) hal.7

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s