Keliru Prabowo Soal Penambahan Guru dan Tunjangan Profesi

TERKEJUT saya membaca visi-misi bakal calon Presiden RI PrabowoSubianto – HattaRajasa di laman www.kpu.go.id. Ada dua point kritikal. Pertama, penambahan 800 ribu guru baru dalam lima tahun ke depan. Kedua, menaikkan tunjangan profesi guru menjadi rata-rata empat juta rupiah per bulan. Kedua rencana itu bagian dari janji untuk meningkatkan kualitas sumber daya manusia dalam balutan program reformasi pendidikan.

Saya sugguh paham niat Prabowo-Hatta berusaha memastikan setiap sekolah punya guru. Dengan tambahan 800 ribu guru, maka di tahun 2019 tidak ada lagi siswa yang terlantar.Tentu saja dengan jumlah guru yang demikian maka layanan pendidikan yang bermutu bisa tersedia.

Begitu juga dengan niat menambah tunjangan profesi guru. Dengan memperoleh tambahan rata-rata empat juta rupiah per bulan, Prabowo-Hatta mungkin hakul yakin kinerja guru akan beranjak membaik. Logikanya: dengan kesejahteraan yang baik maka kinerja pun akan meningkat; jika kinerja guru bagus maka mutu pendidikan ikut terdongkrak.

Sayangnya, niat baik Prabowo-Hatta tidak segendang sepenarian dengan kebutuhan di lapangan. Menambah jumlah guru saat kekurangan memang tepat. Namun, menambah guru baru saat jumlahnya sudah berlebih, tentu saja itu sesat pikir.

Mendikbud Muhammad Nuh sudahbilang pasokan guru Indonesia berlebih 20 persen. Sekitar 500 ribu guru kita telah menganggur atau kekurangan jam mengajar. Bahkan sekitar 68 persen sekolah di perkotaan dan 52 persen sekolah pedesaan mengalami kelebihan guru. Sementara 66 persen sekolah di daerah terpencil kekurangan guru (Suara Merdeka, 7/3/2011).

Guru di Indonesia berkisar 2,92 juta orang. Dari jumlah itu, rasio guru dan siswa kita telah mengalahkan Amerika Serikat (AS) dan Korea Selatan. Di AS satu orang guru harus melayani 20 orang siswa. Di Negeri Ginseng rasio guru-siswa adalah satu guru berbanding tiga puluh siswa. Sedangkan di Indonesia satu orang guru hanya melayani 18 orang siswa. Padahal rasio ideal secara internasional adalah satu guru melayani 32 siswa.

Studi Bank Dunia bertajuk Mentransformasi Tenaga Pendidik di Indonesia (2011) memaparkan bahwa sekolah-sekolah di pedesaan pada umumnya tidak kekurangan guru. Yang terjadi sebenarnya adalah sekolah di pedesaan itu kekurangan guru yang berkualifikasi dan berkompetensi. Laporan ini melawan pemahaman umum yang sering mengatakan sekolah di pedesaan kekurangan guru.

Di sisi lain laju pertumbuhan guru pensiun berkisar 32 ribu per tahun. Artinya dalam lima tahun ke depan diperkirakan sekitar 160 ribu guru akan memasuki paripurna tugas. Jika Prabowo-Hatta jadimerekrut 800 ribu guru baru, maka bisa dipastikan lebih dari 600 ribu guru akan kembali kekurangan jam mengajar. Dengan demikian, negara akan menggaji guru yang menganggur mengajar.

Lantas kenapa kita masih merasa kekurangan guru? Persoalan sesungguhnya ada pada pendistribusian guru yang tidak merata. Saat ini guru-guru terbaik kita bertumpuk di perkotaan dan di sekolah-sekolah favorit. Di sekolah itu, guru jadi tidak produktif karena kekurangan jam mengajar. Di sisi lain sekolah daerah terpencilkekurangan guru. Karena tidak punya guru, maka mereka merekrut dan menggaji guru honorer yang mutunya tidak terjamin.

Susilo Bambang Yudoyhono (SBY) sudah menyadari persoalan kelebihan guru. Itulah sebabnya lahir surat keputusan bersama (SKB) 5 Menteri tahun 2011 tentang Penataan dan Pemerataan Guru PNS. SKB bertujuan melakukan percepatan distribusi guru. Semakin cepat terdistribusi, maka kita mendapatkan dua keuntungan sekaligus. Pertama, mutu pendidikan meningkat cepat, karena guru terbaik sudah disebar ke seluruh Indonesia. Kedua, anggaran BOS yang digunakan untuk menggaji guru honorer bisa dialihkan untuk mendukung pembelajaran bermutu.

Indonesia tidak membutuhkan penambahan guru dalam jumlah besar. Yang mendesak adalalah mendistribusikan guru-guru terbaik ke seluruh penjuru negeri. Agar pendistribusian ini bisa berjalan cepat, maka yang dibutuhkan ketegasan kebijakan dan inovasi dari pemerintah. Misalnya dengan memberikan tunjangan profesi lebih besar dan fasilitas lebih baik bagi guru-guru yang dipindahkan ke daerah terpencil.

Soal tunjangan profesi guru menjadi empat juta rupiah per bulan? Saya menduga sebelum merumuskan rencanaitu, Prabowo-Hatta tidak mendapat data akurat dari timnya. Mereka keliru dengan menganggap naiknya kesejahteraan guru maka serta-merta pula meningkat mutu pendidikan. Sudah banyak studi yang membuktikan anggapan itu salah.

Hafid Abbas, Guru Besar Fakultas Ilmu Pendidikan Universitas Negeri Jakarta (UNJ) dalam Misteri Pelaksanaan Sertifikasi Guru (Kompas, 2/6/2013) secara lugas menjelaskan kekeliruan itu. Mengutip laporan Bank Dunia, Spending More or Spending Better: Improving Education Financing in Indonesia (2013), Hafid Abbas menulis: program sertifikasi guru yang diselenggarakan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan selama beberapa tahun terakhir ternyata tidak memberi dampak perbaikan terhadap mutu pendidikan nasional.

Pemerintah sudah menguras sekitar dua per tiga dari total anggaran pendidikan yang mencapai 20 persen APBN (hal 68). Pada 2010, sebagai contoh, biaya sertifikasi mencapai Rp 110 triliun! Ironis.

Hafid Abbas menyebut kesimpulan itu diperoleh setelah Bank Dunia meneliti 240 SD negeri dan 120 SMP di seluruh Indonesia. Studi ini melibatkan 39.531 siswa sejak 2009. Hasil tes antarasiswa yang diajar guru yang bersertifikasi dan yang tidak untuk mata pelajaran Matematika, Bahasa Indonesia, serta IPA dan Bahasa Inggris diperbandingkan. Hasilnya: pengaruh program sertifikasi guru terhadap hasil belajar siswa, baik di SD maupun SMP terhadap peningkatan mutu pendidikan itu sendiri tidak berbanding lurus.

Dari titik inilah kemudian saya beranjak ke penyampaian saran kepada Prabowo-Hatta agar niat menambah tunjangan profesi guru dipikir ulang. Sudah terlalu banyak uang rakyat digelontorkan dengan judul tunjangan profesi guru, namun mutu pendidikan tidak membaik.

Memberi banyakuang tanpa pengawasan dan bukti kinerja terukur adalah pemborosan. Apalagi pemborosan itu, berlawanan dengan rencana Prabowo-Hatta untuk melakukan realokasi dan peningkatan efisensi terhadap pos-pos belanja pendidikan dalam APBN yang dipandang tidak efektif dan boros.

Persoalan utama profesionalisme guru kita bukan semata soal meningkat atau tidaknya keterampilan dan kesejahteraan. Tantangan utama adalah mengubah mental guru. Prabowo-Hatta jangan mengabaikan hasil studi Bank Dunia yangmembuktikan bahwa tunjangan besar tidak lantas membuat guru jadi bermutu. Kecuali, isu ini sekadar dipakai untuk meraup suara guru, tanpa perduli naik tidaknya mutu pendidikan di masa depan.

Harus diakui keterampilan teknis guru meningkat setelah mengikuti PLPG (Program Pelatihan dan PendidikanProfesi Guru) sebagai syarat mendapatkan sertifikat profesional. Tapi keterampilan tidak bermanfaat jika tidak dipraktikkan dan itulah yang terjadi. Setelah mendapat sertifikat, guru kembali ke sekolah, tapi sayangnya kebanyakan dari mereka tidak mengajar seperti di PLPG. Karena cara guru mengajar tidak berubah, ya tentu saja mutu siswa juga tidak meningkat.

Di sinilah letak tantangan sertifikasi yaitu, memastikan guru mempraktikkan hasil PLPGke dalam PBM (Proses Belajar Mengajar). Seharusnya fokus presiden kesana. Kepada guru yang telah terbukti melakukan tanggung jawab profesional sesuai PLPG, barulah mereka layak diberikan tunjangan profesi sebesar-besarnya.

Akhirnya saya ingin mengatakan kepada Prabowo-Hatta bahwa niat baik saja tidak cukup untuk mengubah kondisi bangsa Indonesia. Pemimpin baru nanti dituntut menguasai fakta-fakta lapangan agar mampu merumuskan program yang revelan.Tanpa menguasai fakta lapangan, maka janji dan program kerja hanya membuat kita tersesat dan mengulangi kesalahan yang sama (*).

Pos ini dipublikasikan di Tak Berkategori. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s