Pendekatan Saintifik dan Perbedaan Belajar Individu

ARTIKEL Perenungan Pak Tamba (Harian Analisa, 23/9/2014) yang ditulis Rinto Tampubolon menarik perhatian saya. Ada dua hal yang membuat saya membaca artikel ini: (1) saya kenal dengan si penulis, dan (2) tema yang diangkat menarik.

Saya menikmati membaca artikel ini. Tapi saya sempat berhenti membaca sebentar ketika sampai pada pendekatan saintifik. Rinto bilang Pak Tamba tidak percaya bahwa cara belajar peserta didik hanya akan bisa berkembang dengan satu pendekatan yang digariskan; pendekatan saintifik.” Setiap siswa punya lintasan dan gaya belajar masing-masing, ada yang harus dibantu secara langsung dan ada juga tidak langsung. Untuk itu, tidak ada pendekatan yang benar-benar tepat pada semua siswa. Setiap siswa memerlukan pendekatan yang unik,” kata Pak Tamba seperti yang disampaikan Rinto.

Sampai di titik ini, saya merasa pendapat Pak Tamba bermasalah, baik dari segi konsep maupun operasionalnya. Menurut saya Pak Tamba telah menyimpulkan bahwa pendekatan saintifik tidak mengakomodir keberagaman cara belajar siswa. Semua siswa akan dipaksa dengan cara belajar yang sama. Itu pendapat yang keliru.

Baiklah, saya coba ulas singkat kekeliruan pendapat Pak Tamba:

Pertama, Pak Tamba kurang tepat saat menyebut pendekatan saintifik sebagai cara belajar siswa. Seolah-olah pendekatan saintifik adalah sebuah cara belajar atau metode pembelajaran. Padahal pendekatan pembelajaran dan metode pembelajaran sangatlah berbeda baik dari segi defenisi maupun operasionalnya. lihat bagan 1.

Bagan 1

Bagan 1

Secara umum kita mengetahui pendekatan pembelajaran ada dua yaitu : (1) Pembelajaran yang berpusat pada guru (teachers centered approach/TCA), dan (2) pembelajaran yang berpusat pada siswa (student centered approach/SCA).

TCA merupakan pendekatan pembelajaran yang menekankan bahwa guru adalah satu-satunya sumber informasi. Guru aktif sedangkan siswa pasif. Metode pembelajaran umumnya hanya tiga yaitu ceramah, bertanya dan demonstrasi. Guru menerangkan dan siswa mendengar. Oleh Paulo Faire dalam buku Pedagogy of the Oppressed (1970), menyebut pembelajaran seperti ini sebagai pendidikan bergaya bank (Bank Concept).

Sedangkan SCA merupakan pendekatan pembelajaran yang menekankan  pada minat, kebutuhan dan kemampuan individu, menjanjikan model belajar yang menggali motivasi intrinsik untuk membangun masyarakat yang suka dan selalu belajar. Dalam proses ini siswa yang aktif sedangkan peran guru hanya sebagai fasilitator. Metode pembelajaran yang biasa digunakan adalah PAKEM, CTL, Cooperative Learning dll.

Kedua, Pendapat Pak Tamba bisa menjadi benar jika Kurikulum 2013 dengan pendekatan saintifiknya diajarkan dengan pendekatanTCA. Dengan pendekatan TCA ini, tentu saja siswa harus belajar dengan cara yang sama yaitu mendengar dan mencatat. Tapi Permendikbud No. 81A tentang Implementasi Kurikulum 2013 menulis secara tegas bahwa pendekatan K-13 adalah Student Centered Approach. Artinya guru harus mendesain strategi, metode, teknik dan taktik pembelajaran berdasarkan minat, kebutuhan dan kemampuan siswa.

Ketiga, agar guru mampu mendesain metode pembelajaran sesuai pendekatan saintifik, maka guru harus mengenali cara belajar siswanya. Gaya belajar siswa dipengaruhi oleh kecerdasan yang dimilikinya. Ada 8 kecerdasan yang umumnya ada pada manusia yaitu: (1) linguistic, (2) matematis-logis, (3) visual-spasial,(4) musik, (5) kinestesis, (6) interpersonal, (7) intrapersonal, dan (8) Naturalis. Dari 8 kecerdasan ini, setiap individu setidaknya punya satu kecerdasan yang menonjol. Kecerdasan yang menonjol inilah yang perlu dideteksi guru. Cara mencaritahunya juga beragam, mulai yang sederhana melalui pengamatan harian sampai yang agak modern melalui test MIR (Multiple Intelligences Research).

Nah, sampai di sini sepertinya sudah jelas bahwa pendekatan saintifik tidak mengabaikan keberagaman belajar siswa. Sebaliknya pendekatan saintifik mengakomodir 8 kecerdasan yang ada pada manusia karena diimplementasikan melalui pendekatan SCA.

Lantas apa pula itu Pendekatan Saintifik?

Pendekatan saintifik adalah satu pendekatan yang digunakan dalam pembelajaran dengan menitikberatkan pada penggunaan metode ilmiah dalam Proses Belajar Mengajar (PBM). Pendekatan saintifik ini lebih dikenal dengan pendekatan 5M (Mengamati, Menanya, Mengumpulkan Informasi/Bereksperimen, Mengasosiasikan/Mengolah informasi, dan Mengkomunikasikan).

Secara sederhana pendekatan saintifik bertujuan membawa masalah kehidupan sehari-hari atau realitas ke dalam kelas. Masalah-masalah ini akan dibedah dengan menggunakan alat analisis berupa mata pelajaran apakah itu mate-matika, IPA, bahasa Indonesia dll. Dalam proses pembedahan itu, ada prosedur pembedahan yaitu 5 M. Prosedur ini akan membantu proses menganalisa menjadi lebih sistemik dan ilmiah.

Pendekatan Saintifik

Tabel 2 Praktik 5 M

Agar prosedur 5M bisa membedah masalah dengan baik, maka guru harus merancang strategi, metode, teknik dan taktik pembajaran yang kontekstual, berisi instruksi yang jelas dan memicu kemampuan berpikir siswa. Pertanyaan/instruksi yang diajukan guru harus bertype High Thinking Order (Pertanyaan Tingkat Tinggi), tujuannya agar siswa terpicu berpikir kritis, evaluatif dan kreatif. Siswa juga harus diberikan kebebasan untuk mengutarakan pendapatnya dari pikirannya sendiri. Ada dialogis antara guru dan siswa.

Menurut saya prosedur 5 M dalam pendekatan saintifik, mirip dengan Problem Solving Education yang diajukan Paulo Freire. Freire bilang saat bertindak dan berpikir, seseorang akan menyatakan buah pikirannya melalui kata-kata. Dengan daur belajar seperti ini, setiap anak didik secara langsung dilibatkan dalam permasalahan-permasalahan realitas dunia dan keberadaan diri mereka di dalamnya.

Aluar Berpikir Praxis Paulo Freire

Alur PRAXIS Paulo Freire

Anak didik menjadi subjek yang belajar, subjek yang bertindak dan berpikir, dan pada saat bersamaan berbicara menyatakan hasil tindakan dan buah pikirannya. Begitu juga guru. Jadi keduanya (murid dan guru) saling belajar satu sama lain, saling memanusiakan. Dalam proses ini guru mengajukan bahan untuk dipertimbangkan oleh murid dan pertimbangan sang guru diuji kembali setelah dipertemukan dengan pertimbangan murid-murid, dan sebaliknya. Hubungan keduanya pun menjadi subjek. Maka melalui proses ini terciptalah suasana dialogis untuk memahami suatu masalah secara bersama-sama.

Jelas bukan!

 

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s